WEBINAR DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PENYELENGGARAAN TOL LAUT DAN KEPERINTISAN DI PULAU MENTAWAI

Jakarta - Badan Litbang Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyeberangan, bekerja sama dengan Universitas Andalas, mengadakan Webinar dengan tajuk “Dampak Sosial dan Ekonomi Penyelenggaraan Tol Laut dan Keperintisan di Pulau Mentawai” pada Rabu (25/8). Kegiatan yang melibatkan para stakeholder ini ditujukan agar dapat memberikan masukan pada sektor sosial dan ekonomi penyelenggaraan tol laut dan keperintisan di Pulau Mentawai sehingga menjadi rekomendasi bagi Kementerian Perhubungan dalam penyelenggaraan tol laut dan keperintisan.


Dalam sambutannya, Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umar Aris menegaskan bahwa sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar.


“Salah satu pembangunan yang potensial untuk dikembangkan adalah wisata bahari, mengingat industri pariwisata merupakan salah satu sumber penting penghasil devisa yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satu kepulauan di Indonesia yang terkenal akan keindahan pantainya adalah Kepulauan Mentawai, yang merupakan kabupaten terbungsu di Provinsi Sumatera Barat,” jelas Umar.


Sementara itu, Rinaldi Eka Putra selaku Dosen FISIP Universitas Andalas menambahkan bahwa meskipun Kepulauan Mentawai berada di kawasan pesisir, tetapi mata pencaharian utama penduduknya adalah petani atau peladang dengan hutan menjadi sumber kehidupannya. Komoditas utama masyarakat Kepulauan Mentawai adalah padi dengan luas sawah mencapai 580 hektar, dan talas dengan produksi 1152 ton. Selain itu, produksi perikanan juga menjadi salah satu sektor yang diandalkan oleh masyarakat Mentawai dengan ikan tongkol sebagai komoditas utama.


Untuk mencukupi ketersediaan komoditas atau barang kebutuhan pokok dan barang penting agar lebih terjamin di pulau Mentawai, pemerintah telah mengoperasikan kapal Tol Laut pada tahun 2019 yang diharapkan dapat mengurangi fluktuasi harga antar waktu dan mengurangi disparitas harga serta memfasilitasi pemasaran produk unggulan daerah. Kapal tol laut yang telah beroperasi ini merupakan KM. Kendhaga Nusantara 2.


“KM. Kendhaga Nusantara 2 mampu menampung sebanyak 200 kontainer lebih dengan fasilitas bongkar muat lengkap. KM. Kendhaga Nusantara 2 juga dirancang khusus untuk mengangkut barang kebutuhan pokok di daerah terpencil dan terluar di garis perbatasan yang memiliki dermaga pelabuhan dengan fasilitas yang minim,” ucap Yossafra, Dosen Transportasi dan Peneliti Pustran Universitas Andalas.


Saat ini, KM. Kendhaga Nusantara 2 melayani penyelenggaraan tol laut pada trayek T-2 dengan menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur - Sinabang - Gn. Sitoli - Mentawai (Sikakap) - Teluk Bayur.


“Dengan adanya kapal milik negara yaitu kapal KM Kendhaga Nusantara 2 di pangkalan Teluk Bayur akan menjadi sarana dan prasarana bagi masyarakat wilayah Sumatera Barat, pulau Nias dan sekitarnya yang dapat dimanfaatkan untuk mengirim kebutuhan masyarakat, kebutuhan pokok penting, hasil produksi Usaha Kecil Menengah (UKM), hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil perikanan, hasil perindustrian dan juga hasil pertambangan. Untuk daerah-daerah yang tidak memiliki akses jalan yang memadai, diperlukan sinergi dengan angkutan perintis, penyeberangan maupun pelayaran rakyat untuk mendukung konektivitas tol laut,” ujar, Umar Aris.


Dalam diskusi ini, Rinaldi Eka Putra juga menyebutkan bahwa penyelenggaraan tol laut di Kepulauan Mentawai dapat membawa manfaat positif bagi sektor ekonomi maupun sosial.


“Beberapa nilai manfaat bagi Kepulauan Mentawai atas penyelenggaraan tol laut ini diantaranya akan terjadi multiplayer effect terhadap bidang-bidang lainnya, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat lokal, menekan disparitas harga untuk seluruh komoditi yang berasal dari desa-desa atau dari luar Mentawai, serta membuka keterisolasian dan permudah mobilitas masyarakat ke luar Mentawai dengan biaya murah,” ucap Rinaldi.


Mugen Suprihatin selaku Direktur Lalu Lintas Angkatan Laut Dirjen Perhubungan Laut menegaskan bahwa operasional Tol Laut pada trayek T-2 cukup memberikan peningkatan konektivitas di daerah rawan bencana seperti Kepulauan Mentawai. Operasional ini menjadi sangat penting karena posisinya yang relatif jauh dan selama ini biaya transportasi yang relatif mahal dari dan/atau ke pulau Sumatera. Meskipun begitu, terlepas dari segala kelebihan tol laut, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh atas penggunaan tol laut serta penyamaan persepsi konsep tol laut, untuk selanjutnya dilakukan sosialisasi yang lebih komprehensif kepada semua pihak agar penggunaan tol laut bisa lebih maksimal.


Senada dengan Mugen, Dr. Ir. Gunung Hutapea, M.M menyampaikan bahwa perlu kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta evaluasi agar efektifitas dan efisiensi tol laut bisa ditingkatkan, yang diharapkan juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.


“Untuk kedepannya diharapkan akan ada kajian-kajian yang lebih mandalam lagi tentang tol laut ini untuk kemudian menjadi jalan keluar terhadap masalah-masalah ekonomi dan transportasi di wilayah Sumatera Barat, khususnya Kepulauan Mentawai,” jelas Gunung.


Turut hadir sebagai pembahas dan narasumber dalam kegiatan Webinar kali ini, Drs. Rinaldi Eka Putra, MSi (Dosen FISIP Universitas Andalas). Dr. Fajri Muharja, SE. MSi (Dosen Ekonomi Universitas Andalas), Yossyafra, MEmgSc. Ph.D. (Dosen Transportasi dan Peneliti Pustran Universitas Andalas), Prof. Wihana Kirana Jaya, Ph.D (Staf ahli Menteri Perhubungan), Prof. Dr. Techn. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., IPU., ASEAN.Eng (Pakar Transportasi UGM), Dr. Capt. Mugen Suprihatin, M.Sc (Direktur Lalu Lintas Angkatan Laut Dirjen Perhubungan Laut), dan Prof. Dr. Martani (Pakar Ekonomi Transportasi UI. (RY)


Komentar

Tulis Komentar