TINGKATKAN POTENSI TRANSPORTASI LAUT UNTUK MENDUKUNG WISATA BAHARI, BALITBANGHUB GELAR FGD

Bali - Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis (6/8). Diskusi yang digelar di Grand Inna Kuta Bali ini mengusung tema “Potensi Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan untuk Mendukung Kunjungan Wisata Bahari di Indonesia pada Pandemi Covid 19 Menuju Kebiasaan Baru”. 



Dok. Sambutan Kepala Badan Litbang Perhubungan dan Laporan Kepala Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyebrangan 


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Umiyatun Hayati Triastuti dalam sambutannya mengatakan, FGD ini dilakukan untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata di Indonesia meliputi; Bali, Mandalika, Borobudur, Danau Toba dan Likupang yang menjadi program lima new Bali dengan tetap melakukan pengawasan protokol kesehatan.


Sementara itu, menurut Kapuslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan I Nyoman Sukayadnya FGD ini dilakukan untuk mendapatkan berbagai saran dari regulator, operator, pelaku pariwisata dan masyarakat dalam rangka menyiapkan dukungan transportasi laut, sungai, danau, dan penyeberangan di masa pandemi Covid-19 menuju kebiasaan baru.


Perwakilan dari Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),Theresia Susanti. Melalui topik “Pokok-pokok Pikiran Pengembangan Pariwisata Berbasis Alam di Indonesia Pada Pandemi Covid 19”, Theresia menjelaskan tentang strategi apa saja yang diterapkan KKP antaralain :

- Pembangunan wisata bahari berbasis Desa (Dewi Bahari)

- Penyusunan Protokol wisata dengan tatanan adaptasi kebiasaan baru

- Promosi wisata melalui online booking


Kasubdit Statistik Transportasi, Hajizi dengan topik “Dukungan Sektor Pariwisata dan Transportasi terhadap Pendapatan nasional di era Pandemi Covid 19”. Hajizi menjelaskan, laju pertumbuhan PDB sektor transportasi dan Pariwisata pada tahun 2020 menurun enam bulan pertama.


Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Bali, I Putu Astawa. Dalam pemaparannya, Putu membahas topik tentang “Penerapan Protokol Kesehatan Pariwisata pada Wisata Bahari di Provinsi Bali Menuju Kebiasaan Baru”. Menurut Putu, Bali merupakan salah satu pariwisata yang memberikan banyak kontribusi terhadap pariwisata nasional.


“Namun, pada triwulan I 2020, ekonomi Bali tercatat tumbuh negatif akibat pandemi Covid 19,” ucapnya.


Untuk memulihkan kondisi pariwisata di Bali, terdapat beberapa tahapan yang akan dilakukan yaitu:

- Tahap Pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020

- Tahap Kedua, melaksanakan aktivitas secara lebih luas, termasuk sektor pariwisata, namun hanya terbatas untuk wisatawan nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020

- Tahap Ketiga, melaksanakan aktivitas secara lebih luas sektor pariwisata termasuk untuk wisatawan Mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020.


Sementara itu, Ketua Asosiasi Penyedia Wisata Bahari, I Nyoman Kirtya, dalam paparannya tentang “Potret Wisata Bahari Selama Pandemi Covid-19” menjelaskan, beberapa prinsip pengembangan wisata di Bali antara lain menguntungkan secara bisnis, berkontribusi terhadap konservasi alam, dan bermuatan edukasi tentang budaya Bali. Untuk itu, demi mempertahankan potensi wisata tersebut, beberapa hal yang menurut Kirtya harus diperhatikan di era adaptasi kebiasaan baru antara lain protokol kebersihan diri, karyawan, dan peralatan; protokol physical distancing; protokol interaksi dengan pengunjung; protokol kesehatan karyawan; dan protokol keadaan darurat.


Melengkapi pembicara pada sesi FGD kali ini adalah Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Alexander Reyaan. Mengatakan, dampak wabah Covid 19 terhadap industri pariwisata dan perjalanan dunia lebih buruk dari prediksi awal.


“Menurut World Travel and Tourism Council, pada 3 Maret 2020 50 juta pekerja di industri perjalanan dan pariwisata sedunia rentan terdampak, dengan penurunan tenaga kerja antara 12-14% dalam 3 bulan,” ujarnya.


Hal ini, secara tidak langsung juga berdampak pada pariwisata di Indonesia. Oleh karenanya, beberapa strategi masa pemulihan yang diterapkan Kemenparekraf yaitu:

- Program Prakerja Bansos Kemensos

- Gerakan penggunaan masker dan jaga jarak

- Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman) di tempat pariwisata

- Online training untuk peningkatan keahlian

Komentar