SUSUN RENCANA MEMBANGUN KONEKTIVITAS IBU KOTA NEGARA, BALITBANGHUB GELAR DIALOG NASIONAL SERTA RAPAT KOORDINASI TEKNIS ANTAR KEMENTERIAN DAN LEMBAGA

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan secara resmi kepindahan ibu kota negara, dari Jakarta menuju Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur hari Senin, (26/8/2019) lalu.

Berbagai pihak seperti kementerian atau lembaga pun memiliki tanggung jawab terkait target keberhasilan pemindahan ibu kota. Hal ini tentunya memerlukan koordinasi antar pihak, sehingga tujuan penyediaan infrastruktur dan sosio ekonomi ibu kota baru bisa tercapai.

Di sisi lain, rencana pemindahan Ibu Kota Negara mulai menarik perusahaan dari dalam dan luar negeri untuk berinvestasi. Menyambut hal tersebut, pemerintah mensyaratkan investasi itu harus mendukung konsep kota hijau dan ramah lingkungan. Salah satu upaya mewujudkan kota yang ramah lingkungan adalah dengan mendesain sedari awal system transportasi berbasis listrik, baik kendaraan pribadi maupun angkutan massal.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menuturkan, setidaknya 30 perusahaan besar ingin berinvestasi di Ibu Kota Negara. Perusahaan itu dari dalam dan luar negeri yang bergerak di bidang listrik hingga kendaraan. Beberapa calon investor itu diantaranya berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Uni Emirat Arab, Singapura, Australia, dan China.

Semua perusahaan harus mendukung konsep kota hijau. “Semua (perusahaan) kami minta dengan high quality. Kami tidak ingin nanti jadi tidak (berkonsep) green city,” lanjut Luhut.

Demi memantau persiapan, serta mendiskusikan dan menyatukan suara dalam mendukung kesiapan pemindahan ibu kota, Badan Litbang Perhubungan  bersama Harian Kompas menggelar dialog nasional bertajuk "Dialog Indonesia: Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara" di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (26/02/2020).

Kegiatan ini dibuka oleh penandatanganan nota kerja sama antara Badan Litbang Perhubungan dengan berbagai perwakilan akademisi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disaksikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

Pada pidato pembukanya, Menhub Budi menyampaikan bahwa konektivitas sangat penting dan jadi salah satu unsur keberhasilan dalam pembangunan ibu kota baru.

"Tentunya tidak mudah dan memerlukan perencanaan yang matang,” ujar Budi.

Budi pun menyampaikan bahwa lewat konsep smart, independent, dan sustainable yang diusung, ibu kota baru ini dapat menjadi gerbang masa depan Indonesia.

"Harapannya ibu kota baru ini bisa jadi contoh untuk kota-kota lain di Indonesia, bahkan dunia," pungkasnya.

Sejalan dengan Menhub, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Umiyatun Hayati Triastuti mengatakan bahwa perancangan transportasi di Ibu Kota Negara di dominasi oleh angkutan umum yang di buat eco green. Lebih lanjut, Umiyatun juga menuturkan bahwa di ibu kota yang baru nanti, smart, integrated, dan sustainable transport akan menjadi prinsip utama dalam perencanaan transportasi.

Diskusi yang berlangsung selama 2 (dua) hari ini, dilanjutkan dengan rapat masing-masing komisi. Untuk diketahui, Badan Litbang Perhubungan membagi rapat menjadi 4 (empat) komisi dan membahas 4 (empat) moda transportasi yang berbeda.

Banyak ide yang dikemukakan untuk mengembangkan konektivitas transportasi di Ibu Kota Negara. Beberapa diantaranya adalah melakukan planning and staging dalam pengembangan transportasi darat dan perkeretaapian, penggunaan teknologi tinggi di bandar udara (smart airport) juga diperlukan dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan.

Lebih lanjut, digitalisasi di bidang transportasi akan mengarah ke artificial intelligence, untuk itu perlu dibuatkan platform yang menjadi standar dalam pengembangan transportasi cerdas. Serta diharapkan agar transportasi sungai di Ibu Kota Negara tidak mati, karena akan menjadi penyelamat transportasi air di IKN.

Diharapkan dengan adanya diskusi ini dapat memberikan kontribusi positif sekaligus bentuk sosialisasi terkait perkembangan pembangunan ibu kota baru.

Komentar