SINERGI PELABUHAN PATIMBAN, PELABUHAN TANJUNG PRIOK DAN CIKARANG DRY PORT SEBAGAI ALTERNATIF ANGKUTAN KONTAINER DAN EFISIENSI LOGISTIK WILAYAH JABODETABEK

Jakarta— Jabodetabek sebagai wilayah metropolitan yang dihuni oleh kurang lebih 29 juta penduduk, merupakan wilayah dengan aktifitas logistik yang cukup ramai. Pertumbuhan layanan pengiriman barang di Jabodetabek dapat mencapai sekitar 3,5 juta paket per hari. Konektivitas transportasi logistik sangat dibutuhkan untuk memotong rantai distribusi yang dapat membebani biaya logistik.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umar Aris dalam Webinar dengan tema “Angkutan Kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Dry Port Cikarang serta Efisiensi Logistik di Wilayah Jabodetabek dan Pelabuhan Patimban Sebagai Alternatif” yang dilaksanakan pada Rabu (13/4).

Umar mengatakan, untuk memperlancar pelaksanaan logistik dengan efektif dan efisien dibutuhkan suatu system transportasi sehingga dibutuhkan sinergi antarmoda.

“Diperlukan pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi dengan kawasan industri seperti menggunakan kapal tongkang dan kereta api untuk kelancaran angkutan logistik keluar dan menuju Pelabuhan laut maupun Pelabuhan daratan (Dry Port), serta kolaborasi antar pelabuhan seperti Pelabuhan Patimban dengan Pelabuhan Tanjung Priok untuk mendukung kegiatan logistik di Indonesia,” jelas Umar Aris.

Direktur Kepelabuhanan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Subagiyo menjelaskan bahwa kolaborasi antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan Pelabuhan Patimban sudah berjalan dengan sangat baik. Salah satu tujuan utama pembangunan Pelabuhan Patimban adalah untuk mengurangi beban kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok.

Pelabuhan Patimban yang terkoneksi dengan jalan tol dapat mengangkat potensi pembangunan 10 kawasan industri prioritas di sepanjang Koridor Utara Jawa, “Dengan proses distribusi yang lebih efektif dan efisien, maka pada akhirnya Pelabuhan Patimban dapat mendorong penurunan biaya logistik khususnya di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten hingga Jawa Tengah.”

Hal senada diungkapkan Kepala Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyeberangan, Gunung Hutapea, bahwa arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 6,7 Juta TEUS pada Tahun 2021 dan 50% dari seluruh arus barang yang keluar/masuk Indonesia melewati Pelabuhan ini. Selain Pelabuhan Patimban, Cikarang Dry Port diharapkan mampu mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok.

“Semua pelayanan kepelabuhanan yang berintegrasi ke Cikarang Dry Port dapat menjadi penopang Pelabuhan Tanjung Priok, mengingat bahwa industri banyak terdapat di Kawasan Timur (Bekasi) dengan persentase 62% kontribusi Tanjung Priok datang dari timur (Bekasi), 14% dari barat, dan 18% dari selatan,” ujar Gunung.

Selain itu pengiriman kargo dari Tanjung Priok menuju Cikarang Dry Port dapat dilakukan dengan menggunakan Truk mapun menggunakan kereta logistic dan selanjutnya dimungkinkan juga dapat menghubungkan Pelabuhan Patimban menggunakan jalur kereta.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pelindo, Arif Suhartono menyampaikan bahwa Pelabuhan menjadi salah satu kunci dalam rantai logistic. Dengan adanya peningkatan kualitas layanan pelabuhan dapat mendorong terciptanya rantai logistic yang lebih efisien. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperpendek post stay dan cargo stay.

Turut hadir dalam webinar kali ini, Direktur Utama Cikarang Inland Port (Dry Port), Noor Yusuf; Raja Oloan Saut Gurning, ST, M.SC, PH.D. CMARTECH; Direktur Sarana Perkeretaapian; Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut; Staf ahli Bidang Manajemen Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia; Koordinator Transportasi Darat dan Perkeretaapian, BAPPENAS, Dail Umamil Asri, ST, M.Eng.

Komentar

Tulis Komentar