PERILAKU PENGEMUDI TRUK DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP KECELAKAAN

Di Indonesia tingkat kematian yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas jalan masih cukup tinggi, dimana sebagian dari kecelakaan tersebut melibatkan kendaraan angkutan barang (truk). Lembaga Pemerintah yang bertugas untuk melakukan investigasi terhadap kecelakaan transportasi yaitu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Salah satu bagian dari KNKT yaitu Sub Komite Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) bertugas melakukan investigasi kecelakaan yang terjadi pada moda angkutan jalan. Mulai dari tahun 2007 sampai dengan 2019 sub komite ini telah menghasilkan 92 laporan investigasi dimana 33 laporan merupakan kecelakaan LLAJ yang melibatkan kendaraan angkutan barang (truk). Hal ini menunjukan bahwa tingkat kecelakaan yang melibatkan truk masih cukup tinggi.

Kecelakaan lalu lintas jalan pada umumnya terjadi karena kontribusi beberapa faktor secara simultan seperti pelanggaran atau tindakan kurang hati-hati para pengguna jalan, kondisi jalan, kondisi kendaraan, kondisi lingkungan (cuaca atau pandangan terhalang). Namun secara umum faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah faktor manusia itu sendiri atau human error (Anas Tahir, 2006). Pengemudi sebagai penyebab kecelakaan dapat berada dalam berbagai kondisi mental-fisik sebagai berikut:

1. Kurang antisipasi, pengemudi dalam kondisi tidak mampu memperkirakan bahaya yang mungkin dapat terjadi sehubungan dengan kondisi kendaraan dan lingkungan lalu lintas.

2. Lengah, yaitu melakukan kegiatan lain sambil mengemudi yang dapat mengakibatkan terganggunya konsentrasi pengemudi misalnya melihat ke samping, menyalakan rokok, mengambil sesuatu, atau berbincang-bincang dengan penumpang.

3. Mengantuk, pengemudi kehilangan daya reaksi dan konsentrasi akibat kurang istirahat/tidur atau sudah mengemudikan kendaraan lebih dari lima jam tanpa istirahat.

4. Mabuk, pengemudi kehilangan kesadaran karena pengaruh obat-obatan, alkohol dan atau narkotik.

Secara umum perilaku pengemudi di jalan raya dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu perilaku pengemudi yang aman (defensive driving) dan perilaku pengemudi yang agresif (aggressive driving). Perilaku mengemudi agresif (aggressive driving) adalah perilaku mengemudi yang cenderung meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan yang dilakukan secara sengaja dan dimotivasi oleh ketidaksabaran, permusuhan, dan upaya untuk menghemat waktu perjalanan yang melibatkan berbagai perilaku berbeda termasuk perilaku mengikuti, mengklakson, melakukan gerakan kasar, mengedipkan lampu jauh pada kondisi lalu lintas yang tenang sehingga dapat membahayakan orang lain dan dapat menempatkan pengguna jalan lain pada kondisi yang sangat berisiko untuk terjadinya kecelakaan lalu lintas. Perilaku mengemudi agresif cenderung ini berpengaruh terhadap potensi terjadinya kecelakaan.

Aggressive driving didominasi oleh green driver atau pengemudi berusia muda yang kurang pengalaman. Ciri-ciri perilaku mengemudi secara agresif di antaranya adalah kebut-kebutan, kecepatan tidak konsisten, jalan zig-zag tanpa lampu isyarat, akselerasi dan deselerasi secara kasar, egois (tidak mau didahului) dan provokatif (Sony Susmana, 2020). Tindakan mengemudi agresif diyakini menjadi sangat menonjol dan menyebabkan 80-90% dari seluruh kecelakaan lalu lintas. Pada pengemudi angkutan barang, variabel yang mempengaruhi tindakan mengemudi secara agresif adalah tingkat kemampuan, pengetahuan, keterampilan, stress dan motivasi pengemudi (Ali Purnomo, 2010).

Badan Penelitan dan Pengembangan Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian melakukan kajian tentang analisis perilaku pengemudi truk serta kontribusinya pada kecelakaan. Dari hasil pengumupulan data dan analisis yang dilakukan didapatkan bahwa usia muda kurang pengalaman dan multitasking dalam mengemudi secara simultan berpengaruh langsung dan signifikan terhadap perilaku mengemudi secara agresif, sehingga semakin muda serta kurang pengalaman dan semakin sering mengemudi dalam dengan kondisi multitasking maka kemungkinan untuk berperilaku agresif dalam mengemudi semakin tinggi. Menggunakan analisis regresi didapatkan bahwa besarnya kontribusi secara simultan dari variabel usia muda kurang pengalaman dan multitasking dalam mengemudi terhadap perilaku mengemudi secara agresif adalah sebesar 35,3 %. Sedangkan sisanya 64,7 % dipengaruhi faktor lain di luar model.

Sesuai hasil kajian yang mendapatkan informasi bahwa usia muda dan pengalaman mengemudi berpengaruh terhadap kecenderungan untuk mengemudi secara agresif, maka aturan terkait batasan usia dan aturan berjenjang untuk mendapatkan SIM terutama SIM untuk pengemudi truk sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2012 tentang SIM harus benar-benar ditegakkan (komitmen menegakkan aturan).

Selanjutnya informasi lain yang didapatkan adalah usia muda yang kurang pengalaman dan multitasking dalam mengemudi tidak berpengaruh secara langsung terhadap tingkat kecelakaan pengemudi truk, namun kedua variabel tersebut berpengaruh secara tidak langsung dan signifikan terhadap tingkat kecelakaan melalui variable intervening yaitu mengemudi secara agresif. Artinya semakin muda serta kurang pengalaman dan semakin sering mengemudi dalam dengan kondisi multitasking maka kemungkinan untuk berperilaku agresif dalam mengemudi semakin tinggi, sehingga berdampak pada meningkatnya resiko terjadinya kecelakaan. Besarnya kontribusi dari variabel usia muda yang kurang pengalaman, multitasking dalam mengemudi, dan perilaku mengemudi agresif secara simultan terhadap resiko terjadinya kecelakaan adalah sebesar 35,9 %, sisanya sebesar 64,1 % dipengaruhi faktor lain di luar model.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, direkomendasikan penegakan hukum (Law Enforcement) bagi pengemudi yang melakukan multitasking driving seperti menggunakan telpon genggam/HP saat mengemudi. Larangan penggunaan HP saat mengemudi secara spesifik tidak diatur dalam UU 22 tahun 2009 tentang LLAJ, namun pengemudi yang menggunakan HP bisa terkena pasal 106 ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi”. Pengertian wajib mengendarai dengan penuh konsenterasi, mencakup melarang kegiatan-kegiatan yang mengganggu konsentrasi berkendara. Misalnya minum-minuman keras saat berkendara, mengkonsumsi obat terlarang dan menggunakan HP. Kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sanksi terhadap pelanggaran pasal tersebut diatur dalam pasal 283 UU yang sama, yakni denda maksimal Rp 750 ribu dan kurungan 3 bulan. Sehingga dari uraian tersebut, diperlukan juga aturan turunan dari UU 22 tahun 2009 tentang LLAJ. Aturan turunan tersebut salah satunya mengatur secara spesifik larangan penggunaan HP saat mengemudi.


Komentar

Tulis Komentar