PERGERAKAN PENUMPANG DAN BARANG ANGKUTAN UDARA DALAM MASA PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA

Pada Januari 2020, di mana kasus COVID-19 pertama kali diidentifikasi di Wuhan, pertumbuhan kasus positif ini terus mengalami peningkatan. Sehingga, Maret 2020, World Health Organization (WHO) mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa COVID-19 ini merupakan pandemi global karena tingkat penyebaran dan keparahan yang semakin mengkhawatirkan. Implikasi dari pernyataan ini mendorong pemerintah di berbagai negara membatasi pergerakan penduduknya untuk mencegah penyebaran virus yang semakin meluas.

Pemerintah Indonesia sendiri pada akhirnya membuat beberapa kebijakan di dalam usahanya untuk mengurangi transmisi virus SARS Cov-2 penyebab wabah pandemi COVID-19, salah satunya adalah dengan mengurangi layanan transportasi melalui disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemerintah juga menerapkan PM Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. Peraturan tersebut berisi larangan penggunaan transportasi (termasuk transportasi udara) untuk perjalanan dalam negeri pada masa PSBB dari/menuju zona merah yang diberlakukan pada 24 April - 31 Mei 2020 dan diperpanjang hingga 7 Juni 2020 melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 116/2020. Kebijakan pengendalian transportasi dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 dengan memperhatikan protokol kesehatan (sebelum perjalanan, selama perjalanan dan sesudah perjalanan) mulai diberlakukan pada 9 April 2020 melalui PM Nomor 18/2010. Pengurangan kapasitas (slot time) bandara, pembatasan jumlah penumpang maksimal 50% dari jumlah kapasitas tempat duduk dengan penerapan physical distancing, serta penyesuaian tarif batas merupakan beberapa kebijakan yang tercantum pada peraturan tersebut. Pemerintah juga menerapkan PM Nomor 25/2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 H dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. Peraturan tersebut berisi larangan penggunaan transportasi (termasuk transportasi udara) untuk perjalanan dalam negeri pada masa PSBB dari/menuju zona merah yang diberlakukan pada 24 April - 31 Mei 2020 dan diperpanjang hingga 7 Juni 2020 melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 116/2020. Terlebih dahulu sebelumnya pemerintah telah membuat kebijakan untuk menutup penerbangan dari negara-negara terdampak COVID-19, diantaranya adalah Tiongkok, Italia, dan Korea Selatan menuju Indonesia.

Selain karena hubungan sebab akibat antara penyebaran virus COVID-19 terhadap preferensi individu masyarakat untuk melakukan perjalanan, beberapa kebijakan tersebut pada dasarnya juga mempengaruhi tingkat mobilitas penduduk baik mobilitas harian di dalam kota/wilayah administratif maupun mobilitas jarak jauh (lintas wilayah administratif) khususnya pergerakan yang menggunakan moda transportasi udara. Penyebaran virus COVID-19 disertai dengan dinamika kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah dinilai telah memberikan dampak terhadap kondisi industri penerbangan terutama bagi maskapai penerbangan di Indonesia, di antaranya mengenai penurunan jumlah pergerakan penumpang, jumlah penerbangan serta jumlah pergerakan barang yang diangkut melalui pesawat udara. Diperkirakan terjadi penurunan jumlah pergerakan barang hingga 39% dari rata-rata bulanan di tahun 2019 (INACA, 5 Mei 2020, Jakarta Post). Sementara Badan Pusat Statistik mencatat penurunan penumpang di sektor transportasi udara pada periode Januari – Maret 2020 sebesar 10% dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2019. Secara terperinci, jumlah penumpang domestik dan penumpang internasional mengalami penurunan masing-masing sebesar 20% dan 50%.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara, dengan menggunakan pemodelan regresi kargo pesawat udara yang menghasilkan tingkat keakuratan model regresi yang cukup kecil yaitu hanya sebesar 26.63% diketahui bahwa pergerakan kargo pesawat udara pada masa PSBB maupun AKB cenderung lebih tinggi dibandingkan ketika masa pemerintah tidak mengambil kebijakan apapun. Data harian angkutan kargo domestik yang dimulai pada bulan April 2020 menunjukkan tren yang cenderung meningkat namun cukup lambat dalam periode Juni hingga Agustus 2020. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pergerakan angkutan kargo domestik besar kemungkinan dapat terjadi dengan perlahan. Sementara itu, titik terendah angkutan kargo internasional berada pada bulan April-Mei 2021 dan mengalami peningkatan pada bulan Juni 2020, namun hanya mencapai 46% dari tahun 2019 di bulan yang sama.

Sementara untuk pergerakan penumpang domestik, diperkirakan titik terendah terjadi pada bulan Mei 2020. Hal ini berkesesuaian dengan hasil pemodelan regresi untuk pergerakan penumpang dengan tingkat keakuratan model sebesar 90.59% diketahui bahwa ketika pelaksanaan PSBB pergerakan penumpang pesawat udara cenderung lebih rendah dibanding ketika pemerintah tidak mengambil kebijakan apapun. begitu pula dengan ketika pemerintah menerapkan kebijakan AKB ternyata belum mampu meningkatkan jumlah pergerakan penumpang pesawat udara. Kemudian berdasarkan pada data aktual yang diperoleh dari periode Januari – Juni 2020, dapat terlihat telah terjadi pemulihan pada bulan Juni 2020. Hal ini terjadi seiring dengan mulai dilakukan relaksasi untuk pergerakan penumpang. Pergerakan penumpang domestik di bulan Juli 2020 telah mencapai hampir 60% dari pergerakan di bulan Juli 2019. Hal berbeda terjadi pada pergerakan penumpang internasional dimana titik terendah pergerakan penumpang internasional juga terjadi di bulan Mei 2020 namun pergerakan di bulan Juli 2020 masih sangat rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tidak sampai 5%. Melalui hal ini dapat terlihat bahwa pemulihan pada pergerakan penumpang internasional terjadi cukup lambat.

Untuk menyikapi hal ini, sejumlah maskapai penerbangan juga perlahan mulai mengubah strategi bisnisnya, dengan hanya memberikan pelayanan logistik dan misi repatriasi selama pembatasan pembatasan penerbangan komersial ini. Pada akhirnya untuk dapat bertahan di saat krisis karena pandemi COVID-19, beberapa maskapai terpaksa memanfaatkan pesawat yang tidak digunakan dan juga memanfaatkan ruang kabin yang kosong untuk mengangkut kargo. Jika mengalihfungsikan pesawat penumpang yang tidak digunakan menjadi pesawat kargo, maka kapasitas kargo berpotensi bertambah sebesar 63% untuk domestik dan 72% untuk internasional.

Komentar

Tulis Komentar