PENGARUH ENERGI DAN LINGKUNGAN DI DUNIA PENERBANGAN

Jakarta-Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara kembali gelar kegiatan diskusi terarah seri ketiga dengan topik energi dan lingkungan pada Jumat (6/11). Kegiatan diskusi terarah yang diselenggarakan secara virtual ini sebagai salah satu bentuk diseminasi hasil kajian perorangan yang dilakukan para peneliti di lingkungan Balitbanghub.

“Peneliti dituntut untuk menghasilkan kajian yang responsif, antisipatif, dan komprehensif untuk menjawab isu-isu strategis yang menjadi persoalan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh berbagai sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi penyempurnaan penelitian dan inline dengan apa yang dibutuhkan dan dapat dimanfaatkan,” ujar Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti.

Senada dengan Hayati, Kepala Puslitbang Transportasi Udara, Novyanto Widadi menyebutkan bahwa pihaknya selalu berupaya melakukan penelitian untuk menjawab tantangan yang muncul di bidang transportasi udara, khususnya memberikan rekomendasi kebijakan yang solutif dan bermanfaat.

Dalam diskusi terarah kali ini terdapat dua hasil penelitian yang disampaikan dengan judul, Pengaruh Kondisi Meteorologi bagi Perencanaan Jalur Penerbangan oleh Dina Yuliana dan Pengaruh Implementasi Continuous Climb Operation (CCO) dan Continuous Descent Operation (CDO) terhadap Pengurangan Emisi CO2 Pesawat Udara yang disampaikan oleh Zulaichah.

Pengaruh Cuaca Bagi Penerbangan

Cuaca menjadi salah satu faktor yang berperan dalam keselamatan penerbangan, bahkan 30% dari kecelakaan pesawat diakibatkan oleh kondisi cuaca, teknis pesawat, operasi penerbangan dan lalu lintas udara. Sedangkan 70% diakibatkan oleh faktor manusia.

Pengaruh cuaca dan iklim pada aktivitas penerbangan secara umum dimulai dari saat akan lepas landas, saat mengudara dan saat akan mendarat. Oleh sebab itu dibutuhkan pelayanan informasi meteorologi penerbangan untuk menyediakan informasi cuaca di bandar udara dan sepanjang jalur penerbangan.

Peneliti berkolaborasi dengan BMKG, AirNav Indonesia dan Angkasa Pura II dalam menghimpun data penelitian periode tahun 2015 hingga 2019. Data tersebut kemudian diolah untuk mengetahui pengaruh kondisi meteorologi yang berdampak pada kelancaran penerbangan di ruang udara sehingga dapat digunakan sebagai referensi pada perancangan jalur penerbangan.

Dina Yuliana menyebutkan, beberapa faktor cuaca yang berpengaruh bagi penerbangan antara lain: angin, tekanan udara, awan, hujan dan suhu udara.

“Secara statistik data, suhu udara dan tekanan udara di Bandara Soekarno Hatta memiliki tren yang sama dari tahun 2015 sampai 2016. Rata-rata curah hujan tertinggi (periode 3 jam) dari tahun 2015 s.d 2016 terjadi pada bulan Februari,” jelas Dina.

Cakupan wilayah dalam jalur penerbangan dikelompokkan dalam 5 (lima) pola probabilitas kemunculan awan Cumulonimbus (CB) yaitu probabilitas tinggi (60%), sedang (40%-50%), probabilitas rendah (20%-40%), probabilitas jauh lebih renda (20%) dan probabilitas sangat rendah (<5%).

Dari hasil kajian ini diharapkan AirNav Indonesia dan BMKG agar melakukan kerja sama dalam pemanfaatan data cuaca bagi perancangan jalur penerbangan. Selain itu, BMKG agar menyediakan data cuaca musiman yang dapat dimanfaatkan dalam perancangan jalur penerbangan (keberadaan awan CB, turbulensi, dll). Dalam peningkatan pelayanan lalu lintas penerbangan, AirNav Indonesia agar meninjau ulang  jalur penerbangan yang sudah ada untuk disesuaikan dengan karakteristik cuaca sepanjang jalur penerbangan.

Pengurangan Emisi CO2 Pesawat Udara

Transportasi Udara termasuk salah satu sektor yang berperan dalam pengurangan emisi gas CO2 sesuai dengan action plan yang tertulis dalam Nationally Determined Contribution (NBC). Salah satu yang dilakukan adalah dengan implementasi Continuous Climb Operation (CCO) dan Continuous Descent Operation (CDO).

Pada metode konvensional, setiap pesawat harus menjaga ketinggian secara stabil di titik ketinggian tertentu di mana hal ini mengonsumsi banyak bahan bakar. Dengan adanya CDO setiap pesawat dapat melakukan prosedur descent secara terus menerus sehingga dapat mengurangi kebutuhan bahan bakar. Hal ini juga berlaku pada pesawat yang melakukan CCO dengan skema yang sama.

“Beberapa negara sudah melakukan penelitian terkait implementasi CCO dan CDO dengan mengukur konsumsi bahan bakar pesawat saat menggunakan metode konvensional dibandingkan dengan implementasi CCO/CDO. Hasilnya dengan menggunakan CCO/CDO konsumsi bahan bakar menurun sehingga CCO/CDO berkontribusi pada pengurangan bahan bakar pesawat udara,” jelas Zulaichah.

Zulaichah menambahkan bahwa penelitiannya bertujuan untuk mengukur besaran pengurangan emisi CO2 dengan pendekatan pengukuran besaran efisiensi penggunaan bahan bakar setelah implementasi CDO dan CCO di Indonesia.

Diharapkan prosedur CCO dan CDO dapat direkomendasikan untuk diterapkan di bandara lain, mengingat saat ini hanya ada 4 bandara di Indonesia yang menerapkan CCO/CDO. Selain itu, bagi bandara yang telah mengimplementasikan CCO/CDO dalam SID/ STAR serta kondisi lalu lintas tidak padat, prosedur direct profile dapat direkomendasikan karena memberikan efisiensi penggunaan bahan bakar lebih besar.

Penelitian ini masih terus dikembangkan dengan melakukan kolaborasi antara AirNav Indonesia dan Garuda Indonesia sehingga menghasilkan penelitian yang komprehensif dan bermanfaat.

Turut hadir dalam diskusi kali ini Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Direktur Navigasi Penerbangan, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK, Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG, Direktur Operasi Perum LPPNPI, Sekretaris Jenderal INACA, Chief of Pilot PT Indonesia AirAsia serta Dr. Agus Santoso.

Komentar