PENELITI BALITBANGHUB KAJI PELAYANAN ANGKUTAN LAUT PADA MASA PANDEMI COVID-19 DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR RAMAH LINGKUNGAN

Jakarta- Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyeberangan (Puslitbang LSDP) menggelar Focus Group Discussion (FGD)  dengan tema dukungan pelayanan angkutan laut pada masa pandemi Covid-19 dan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Kegiatan FGD diselenggarakan pada Senin (16/11) menghadirkan 2 peneliti Balitbanghub serta mengundang para stakeholder terkait secara virtual.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk diseminasi hasil kajian perorangan yang dilakukan para peneliti serta diharapkan kami dapat menerima masukan-masukan terhadap hasil kajian sehingga menjadi lebih sempurna dan dapat dimanfaatkan,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Teknologi dan Penunjang Penelitian Puslitbang LSDP, I Ketut Suhartana.

Dalam FGD kali ini membahas 2 hasil kajian dengan judul, pertama oleh Dedy Arianto, Peneliti Utama Puslitbang LSDP dengan judul kajian “ Antisipasi Kapal Penumpang dan Barang di Pelabuhan Selama Masa Pandemi Covid-19” dan kajian kedua akan disampaikan oleh Feronika Sekar P, Peneliti Madya Puslitbang LSDP dengan judul “Penerapan Bahan Bakar yang Ramah Lingkungan Terhadap Mesin Kapal (B20)”.

Pelayanan Angkutan Laut Masa Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional diketahui telah banyak memberi dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor, salah satunya pada sektor angkutan transportasi laut, sungai, danau, dan penyeberangan.

Berbagai upaya pencegahan penularan telah dilakukan pemerintah di sektor transportasi laut diantaranya, pengadaan fasilitas kesehatan dan lokasi isolasi, pemeriksaan dan pemantauan kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh dan mencuci tangan yang dilakukan sejak awal keberangkatan, di atas kapal dan pelabuhan tujuan terhadap kondisi penumpang dan ABK kapal.

Peneliti Puslitbang LSDP Dedy Arianto menyebutkan, dengan adanya kajian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi dalam penyempurnaan penanganan/pelayanan penumpang dan barang di pelabuhan selama masa pandemi Covid-19 dalam rangka menekan penularan Covid-19.

“Penelitian dilakukan menggunakan survei online dengan sample yang kami fokuskan pada operator pelabuhan dan regulator. Survei dilakukan guna mendapatkan data dan informasi sejauh mana ketersediaan fasilitas, sarana, dan prasarana, kunjungan kapal, sispro pelayanan pada pelayanan penumpang dan barang baik pada masa pra dan pasca pandemi Covid-19 sesuai protokol kesehatan penanganan Covid-19 di area Pelabuhan,” jelas Dedy.

Dalam melakukan analisis Dedy membagi dalam 3 kelompok yakni, analisis pelayanan penumpang dan barang secara umum, analisis pelayanan kapal penumpang dan terminal penumpang, serta analisis pelayanan barang di terminal konvensional/peti kemas.

Hasilnya, secara umum pelayanan penumpang serta pelayanan barang di pelabuhan pada masa pandemi covid-19 mendapatkan kisaran nilai rata-rata di atas 90%; untuk upaya penanganan pandemi covid-19 untuk pelayanan penumpang dan terminal penumpang mendapatkan kisaran nilai rata-rata di atas 80%; sedangkan pelayanan pelayanan barang dan di terminal konvensional/petikemas memperoleh nilai rata-rata di atas 65% sampai dengan 80%.

Dari hasil tersebut terdapat beberapa rekomendasi yang disampakan Dedy, di antaranya perlu adanya peningkatan pelayanan dan sosialisasi secara intens tentang kemampuan memahami, mengerti, dan melaksanakan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan meningkatkan koordinasi intensif dengan Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 serta perlunya harmonisasi, sinkronisasi dan penyamaan persepsi tentang pembatasan operasional pelayaran dan pelabuhan.

Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Program B20 merupakan program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 20% Biodiesel dengan 80% bahan bakar minyak jenis Solar. Program B20 mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2016 termasuk di sektor transportasi. Pada tahun 2020 ini penggunaannya akan ditingkatkan menjadi program B30.

Penggunaan biodiesel dapat meningkatkan kualitas lingkungan karena bersifat degradable (mudah terurai) dan emisi yang dikeluarkan lebih rendah dari emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil. Penerapan biodiesel juga diharapkan dapat semakin mengurangi laju impor BBM sehingga meningkatkan devisa negara.

Pada diskusi kali ini, Feronika Sekar menyampaikan hasil kajiannya yang berjudul “Penerapan Bahan Bakar yang Ramah Lingkungan Terhadap Mesin Kapal (B20)”. Fero menyebutkan, bahwa sifat bahan bakar dapat memengaruhi prestasi dan kendalan dari suatu mesin diesel.

“Beberapa sifat bahan bakar seperti, penguapan, residu karbon, viskositas, kandungan belerang, abu, air dan endapan, titik nyala serta mutu pelayanan sangat berpengaruh pada keandalan mesin. Hal inilah yang menyebabkan masih ada penolakan dari operator swasta bahwa biosolar dapat menyebabkan masalah pada mesin kapal,” jelas Fero.

Melalui hasil kajiannya, Fero menyebutkan bahwa berdasarkan uji coba yang dilakukan ESDM kandungan biodiesel masih bisa diterima dan tidak memberikan dampak negatif pada mesin.

Selain itu ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan sebelum memakai biosolar, yakni dengan membersihkan tangki bahan bakar agar tidak terjadi penyumbatan pada filter, nozzle dan injector; menghindari kontaminasi dengan air. Fero menegaskan bahwa penggunaan biosolar aman terhadap mesin kapal jika dilakukan dengan penanganan yang tepat.

Turut hadir memberikan masukan dalam diskusi kali ini, Direktur Perkapalan dan Kelautan, Ditjen Perhubungan Laut; perwakilan dari PT.PELNI; Perwakilan dari PT. ASDP Indonesia Ferry.

Komentar