LOGISTIK KEMANUSIAAN DI ERA PANDEMI COVID-19 PADA MODA TRANSPORTASI LAUT, SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN

Memperhatikan tren dan sebaran dari kasus Covid-19 serta kondisi wilayah di Indonesia sebagai negara kepulauan, logistik kemanusiaan (humanitarian logistics) menjadi hal yang sangat krusial. Logistik kemanusiaan dinilai menjadi hal yang sangat diperlukan untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana Covid-19, khususnya bagi masyarakat yang berada pada wilayah epicentrum dan memiliki keterbatasan akses. Dampak pandemi Covid-19 ini, dirasakan masyarakat secara luas dan hampir menyentuh segala aspek, terutama aspek ekonomi. Apabila dilihat dari sisi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi logistik kemanusian untuk pandemi memiliki perbedaan dengan logistik secara komersial pada kondisi normal dan logistik kemanusiaan untuk bencana.

Logistik kemanusiaan menghadapi tantangan yang lebih kompleks, di antaranya adalah pola permintaan yang tidak dapat diprediksi, baik dari aspek waktu, lokasi geografi, jenis, dan kuantitas kebutuhan jenis barang bantuan kemanusiaan yang diperlukan. Kemudian mengingat waktu yang sangat pendek dan permintaan mendadak dalam jumlah besar untuk jenis barang bantuan kemanusiaan dan layanan yang sangat bervariasi. Bantuan kemanusiaan juga seringkali mendapat tekanan dan perhatian dari media baik secara lokal maupun global serta keterbatasan sumber daya, seperti teknologi, kapasitas transportasi, peralatan penanganan bantuan, dan sumber daya manusia untuk operasional logistik bantuan kemanusiaan. Perbedaan ini pun juga terdapat pada logistik kemanusiaan saat bencana dan pada saat pandemi yang terletak pada lokasi dan pola permintaannya, dimana bencana alam lebih bersifat lokal sementara pandemi dan epidemi bukanlah peristiwa lokal melainkan dapat menyebar tanpa batas yang tentu dan dalam periode waktu yang sulit untuk diprediksi. Oleh karena itu, logistik kemanusiaan saat pandemi membutuhkan kerja tim dan kolaborasi setiap individu. Tujuan dari logistik kemanusiaan pada saat pandemi adalah untuk memungkinkan dan mendukung pengiriman kebutuhan medis dan kebutuh pokok lainnya untuk merawat dan membatasi wabah pandemi. Persiapan untuk menghadapi pandemi sangat diperlukan dengan tujuan memperkuat pemahaman risiko dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. WHO pada tahun 2016 mengeluarkan World Health Organization’s Joint External Evaluation Tool sebagai mekanisme untuk menilai dan mengukur kekuatan negara untuk menghindari, mendeteksi, dan merespon terhadap ancaman kesehatan masyarakat.

Kasus Covid-19 di Indonesia pertama kali dikonfirmasi muncul di Provinsi DKI Jakarta. Hingga akhir Maret 2020, provinsi dengan kasus konfirmasi terbanyak adalah DKI Jakarta yang mencapai 792 kasus. Artinya daerah lain memiliki total kasus dibawahnya bahkan terdapat daerah yang tidak terdampak. Namun pada akhir Agustus 2020, sudah tidak ada lagi daerah yang tidak terdampak. Bahkan terdapat provinsi dengan lebih dari 2.000 kasus yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan,dan Sumatera Barat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyeberangan memfokuskan lokasi kajian pada perencanaan sistem logistik kemanusiaan saat pandemi pada moda Transportasi Laut dan SDP melalui 6 (enam) lokasi pelabuhan yaitu Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Balikpapan dan Makassar serta 2 (dua) lokasi pelabuhan penyeberangan yaitu penyeberangan Merak–Bakauheni dan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah logistik kemanusiaan yang telah didistribusikan oleh BNPB di lokasi kajian per Agustus 2020 masih belum merata. Kondisi tersebut dikarenakan sebaran lokasi pandemi pada hampir seluruh wilayah Indonesia dengan karakteristik wilayah yang berbeda beda disertai dengan pola tren dan sebaran covid-19 yang tidak terduga.

Hasil optimasi yang dilakukan dalam kajian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga titik yang terpilih menjadi lokasi hub port dalam distribusi logistik sumber daya kemanusiaan untuk melayani 83 titik yang tersebar di seluruh nusantara, baik melalui pelayaran direct maupun pelayaran non-direct. Ketiga titik tersebut adalah Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Dengan memperhatikan rute dan jadwal tetap layanan kapal penumpang atau penyeberangan dapat diintegrasikan dengan moda angkutan saat ini dalam pelaksanaan distribusi logistik kemanusiaan. Kapal penumpang memiliki prioritas dalam proses sandar di dermaga pelabuhan, sehingga memungkinkan untuk pelayanan lebih cepat. Kapal 3 in 1 dan kapal penumpang atau kapal penyeberangan menjadi pilihan yang dapat digunakan dalam distribusi logistik kemanusiaan ini. Hal ini karena dalam pelaksanaannya, kapal jenis ini terjadwal di rute-rute tertentu dan diutamakan untuk sandar terlebih dahulu dibanding kapal barang/cargo. Kapal 3 in 1 dapat mengangkut penumpang, barang (petikemas), dan kendaraan. Kapal jenis ini yang telah dimiliki Indonesia antara lain KM. Ciremai dan KM. Dobonsolo. Kedua kapal ini dimiliki oleh perusahan milik pemerintah yaitu PT. PELNI. Sedangkan contoh kapal penyeberangan adalah kapal-kapal milik PT. ASDP Indonesia Ferry.

Pengintegrasian distribusi logistik kemanusiaan dengan layanan kapal penumpang atau penyeberangan eksisting yang memiliki rute dan jadwal yang tetap. Kerjasama dengan perusahaan pelayaran milik pemerintah maupun swasta serta mengoptimalkan pemanfaatan kapal-kapal negara untuk proses distribusi Logistik Kemanusiaan. Pusat Lokasi Distribusi Kemanusiaan di 3 (tiga) lokasi Pelabuhan, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Makassar bertujuan untuk efisiensi dan efektifitas waktu distribusi logistik kemanusian dengan tetap memperhatikan tingkat konektivitas antar wilayah yang terdampak.

Pada penelitian ini juga direncanakan desain kapal khusus logistik kemanusiaan sebagai salah satu alternatif alat angkut logistik kemanusiaan. Desain konseptual angkutan khusus logistik kemanusiaan ini menggunakan LCT yang memungkinkan dapat singgah di wilayah-wilayah kepulauan walaupun tidak memiliki pelabuhan. Dengan demikian maka kapal ini dapat terus bergerak kemanapun sesuai kondisi sebaran COVID-19. Selain logistik kemanusiaan, kapal ini juga dapat diisi dengan peti kemas yang telah dikonversi menjadi ruang isolasi untuk layanan pasien. Untuk mempersingkat waktu dan meminimalkan biaya pembuatan kapal khusu tersebut, dapat dilakukan dengan konversi kapal LCT eksisting. Jenis kapal LCT dipilih karena, memiliki spesifikkasi yang dapat disesuikan dengan kebutuhan untuk memnagkut kendaraan logistik, ambulance, mampu membawa petikemas yang telah dimodifikasi sebagai ruang rawat inap atau ruang isolasi, serta memiliki draft yang relatih rendah sehingga mampu menjangkau wilayah kepulauan dan dapat dipindah sesuai kondisi sebaran Covid-19 di Indonesia.





Komentar

Tulis Komentar