KETERPADUAN MODA BERBASIS REL PADA BANDARA INDONESIA

Wajah Transportasi Antarmoda Kereta dengan Bandara

Keterpaduan moda dewasa ini sangat dibutuhkan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan keterpaduan moda untuk menunjang aktivitasnya. Salah satunya adalah moda berbasis rel di bandara Indonesia. Keberadaan angkutan berbasis rel ini sangat penting dalam memudahkan dan melancarkan perjalanan orang dan barang.

Sejak era kolonial Belanda, kereta sudah menjadi tulang punggung pergerakan barang dan penumpang untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Sumber energi penggeraknya pun beragam, mulai dari kayu, batu bara, uap, dan yang terkini adalah menggunakan listrik. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, lahirlah kereta bandara, kereta Mass Rapid Transit (MRT), kereta Light Rail Transit (LRT), dan kereta cepat. Keberagaman ini didukung oleh UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Untuk diketahui, bhawa kereta bandara, MRT, LRT, dan kereta cepat masuk dalam tatanan sistem perkeretaapian Indonesia berdasarkan pasal 4 dan 5 UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pada regulasi tersebut, klasifikasi perkeretaapian digolongkan berdasarkan 2 (dua) hal, yaitu :

  • Kereta api menurut jenisnya, yang terdiri dari : (a) Kereta api kecepatan normal, (b) kereta api kecepatan tinggi, (c) kereta api monorel, (d) kereta api motor induksi linear, (e) kereta api gerak udara, (f) kereta api levitasi magnetic, (g) trem, dan (h) kereta gantung.
  • Perkeretaapian menurut fungsinya, yang terdiri dari (a) perkeretaapian umum (antarkota dan perkotaan), (b) perkeretaapian khusus.

Untuk menciptakan kenyamanan dan kemudahan saat berpindah moda transportasi, maka terdapat 3 (tiga) faktor pendukung yang harus terpenuhi. Pertama, kesiapan dari sisi fisik baik sarana maupun prasarana transportasi antarmoda. Kedua, sistem kelembagaan dan regulasi yang mengatur tentang pengoperasian transportasi antarmoda. Ketiga, sistem keuangan dalam arti memudahkan penumpang melakukan transaksi pembayaran, atau dapat diartikan sebagai sistem pendanaan untuk mewujudkan transportasi antarmoda yang memadai.

Pengembangan transportasi antarmoda juga harus memiliki indikator yang dijadikan tolak ukur keberhasilannya, diantaranya (1) waktu yang digunakan penumpang untuk menunggu moda transportasi, (2) Biaya yang harus dibayarkan oleh penumpang untuk memasuki tempat transit sebelum melanjutkan ke moda selanjutnya, (3) Faktor keselamatan yang meliputi kelengkapan fungsi sarana dan prasarana dalam mengantisipasi kecelakaan, (4) Adanya rasa aman bagi penumpang, (5) Kenyamanan yang diukur dengan tingkat aksesibilitas jalur transfer antar titik transit, serta (6) Ketersediaan informasi yang ada di tempat pemberhentian sementara.

Disamping itu, kinerja keterpaduan transportasi antarmoda dapat dilihat dari 6 (enam) indikator berikut, yaitu :

  • Kedekatan adalah tingkat pencapaian dari stasiun kereta api menuju halte angkutan umum;
  • Konektivitas adalah tingkat keterhubungan fisik dan spasial antara stasiun dan halte angkutan umum;
  • Kemudahan adalah tingkat kemudahan dalam mengakses stasiun kereta api ataupun halte angkutan umum;
  • Keselamatan adalah tingkat kemampuan jalur penghubung bandara menuju stasiun kereta api dan halte angkutan umum dalam menjamin keselamatan penggunanya;
  • Keamanan adalah tingkat kemampuan jalur penghubung stasiun kereta api dan halte angkutan umum dalam menjamin keamanan penggunanya dari ancaman kejahatan;
  • Kemenarikan adalah tingkat kemenarikan jalur yang menghubungkan stasiun kereta api dan halte angkutan umum untuk digunakan.


Bandara Internasional Minangkabau, Optimalisasi Pelayanan Transportasi Antarmoda

Bandara Internasional Minangkabau merupakan bandara bertaraf internasional di provinsi Sumatera Barat, dengan jarak kurang lebih 24 km dari pusat Kota Padang. Beroperasi sejak 22 Juli 2005, bandara ini telah ditetapkan sebagai tempat embarkasi dan debarkasi haji untuk provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sebagian Jambi.

Pengembangan keterpaduan transportasi antarmoda di Bandara Internasional Minangkabau ini dilakukan dengan memadukan berbagai pelayanan transportasi, salah satunya dengan memperkuat simpul bandar udara dengan mengkombinasikan dengan berbagai sarana transportasi seperti bus, kereta api, dan angkutan kota. Angkutan kereta menuju Bandara Internasional Minangkabau diselenggarakan oleh PT KAI dengan kereta Minangkabau Ekspress rute Bandara Internasional Minangkabau – Padang. Memiliki 5 jadwal keberangkatan dari bandara menuju Stasiun Padang, kereta ini akan bergenti di 2 stasiun sebelum menuju Stasiun Padang, yaitu Stasiun Tabing, dan Stasiun Duku.

Namun keterpaduan antara bandara dengan angkutan lanjutan masih perlu ditingkatkan kembali. Peningkatan keterpaduan pelayanan transportasi tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat simpul bandara dengan angkutan bus, kereta api, dan angkutan kota.

Bandara YIA Memacu Keterpaduan Antarmoda Menuju Aksebilitas

Hadirnya bandara Yogyakarta International Airport (YIA) menandai bergantinya bandara Adisutjipto sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas serta tempat perpindahan transportasi antarmoda di Yogyakarta. Letak bandara YIA sendiri berada di kabupaten Kulonprogo yang berjarak sekitar 42 kilometer dari pusat kota, dimana waktu tempuh menuju ke bandara YIA dari kota Yogyakarta kurang lebih 1,5 jam dengan menggunakan moda transportasi jalan seperti bus, taksi, dan mobil pribadi.

Bandara YIA memiliki total luas areal bandara YIA yang mencapai 587,26 hektar, dan sebanyak 86 hektar lahannya akan dikembangkan menjadi area Airport City. Konsep Airport City yang dikembangkan di bandara YIA akan mengintegrasikan sistem transportasi umum dengan layanan kereta api bandara.

Terkait pembangunan kereta bandara YIA, pemprov DIY berencana tetap menggunakan jalur rel utama yang ada atau eksisting serta merevitalisasi stasiun Kedundang yang direncanakan akan dihubungkan secara langsung menuju bandar udara YIA dengan menggunakan jalur rel baru.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian, sedang mengembangkan jaringan rel KA yang akan mengkoneksikan secara langsung ke bandara YIA melewati Stasiun Kedundang yang direncanakan sebagai akses langsung menuju stasiun bandara. Jaringan rel kereta api yang digunakan untuk mendukung pengoperasian layanan kereta bandara YIA adalah jaringan rel kereta eksisting yang selama ini digunakan untuk jalur angkutan kereta. Akan tetapi, dikarenakan rencana tersebut belum dapat terealisasi, maka sebagai gantinya telah dikembangkan dua stasiun yang mengapit Stasiun Kedundang yaitu Stasiun Wojo dan Stasiun Wates untuk melayani perjalanan penumpang dari dan ke bandara YIA.

Adapun untuk saat ini terdapat empat jenis moda angkutan umum yang mendukung konektivitas dari dan ke Bandara YIA, yaitu tiga angkutan umum berbasis jalan raya dan satu angkutan umum berbasis rel. Keempat jenis angkutan umum tersebut adalah bus Damri, shuttle bus (SatelQu), taksi, dan angkutan KA Bandara.

Angkutan bus Damri melayani trayek wilayah utara yaitu Magelang hingga Wonosobo, untuk wilayah timur hingga Wonosari. Sedangkan wilayah barat yaitu Kebumen, Purwokerto hingga Cilacap. Untuk layanan angkutan bus yang lain yaitu tersedia angkutan SatelQu yang melayani 3 jenis trayek yaitu Yogyakarta-YIA-Cilacap, Yogyakarta-YIA-Purwokerto , dan Yogyakarta-YIA-Banjarnegara

Puslitbang Transportasi Antarmoda Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan kemudian melakukan analisis evaluasi terhadap proses atau aliran pergerakan transportasi antarmoda di bandara YIA yang menunjukkan bahwa masih ada kendala atau hambatan dalam rencana pengembangan transportasi antarmoda.

Melihat keadaan yang demikian, aksesibilitas keterpaduan transportasi antarmoda bandara YIA perlu ditingkatkan dengan memperbaiki dan mengembangkan jaringan sarana, jaringan pelayanan, dan layanan transportasi yang tersedia di bandara YIA, salah satunya melalui upaya peningkatan sistem layanan seperti integrasi jadwal perjalanan antarmoda yang di dalamnya melibatkan jadwal operasional bandara, jadwal penerbangan bandara, serta jadwal keberangkatan kereta bandara.

Komentar