KEBIJAKAN LALU LINTAS KAWASAN PUNCAK

Kawasan Puncak Bogor terkenal dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi terutama di akhir pekan dan libur panjang. Area yang menghubungkan Ciawi- Gadog-Cisarua-Cibodas-Cianjur itu mengalami peningkatan kepadatan sebesar 30% sejak bulan Juli 2020, terutama di daerah Simpang Megamendung, Pasar Cisarua, dan arah menuju Simpang Gadog berdasarkan data dari Kapolres Bogor. Kemacetan ini didominasi oleh kendaraan pribadi yang mayoritas berasal dari DKI Jakarta yang hendak menuju tempat wisata seperti Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Taman Wisata Matahari (TWM), Pesona Alam Resort and Spa, serta The Grand Hill Resort Hotel.

Kondisi kemacetan ini merupakan permasalahan yang berulang dan selalu terjadi di setiap akhir pekan dan libur panjang. Oleh karena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan membuat sebuah kajian yang dapat digunakan sebagai solusi alternatif agar terjadi sinergi yang harmonis antara pengguna jalan, operator angkutan, dan pemangku kebijakan..

Operasionalisasi Angkutan Umum di Kawasan Puncak

Pemanfaatan angkutan umum di Kawasan Puncak dapat menjadi salah satu solusi untuk mengendalikan kepadatan yang didominasi oleh kendaraan pribadi. Hal ini dikarenakan pelebaran jalan tidak memungkinkan untuk dilakukan, karena berkaitan dengan pembebasan lahan. Pada tahun 2029, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) juga menargetkan reformasi transportasi, di mana 60% pengguna kendaraan pribadi akan beralih ke angkutan umum. Salah satu angkutan umum yang menginisiasi reformasi ini adalah angkutan massal point to point dari Pasaraya Blok M menuju Taman Safari Indonesia yang dioperasikan oleh Big Bird pada September 2019.

Skema Buy the Service untuk Angkutan Umum di Kawasan Puncak

Berdasarkan studi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, ada suatu strategi yang dapat ditempuh agar kendaraan umum di Kawasan Puncak memiliki performa yang mumpuni, sehingga masyarakat bersedia untuk beralih menggunakan transportasi umum, yaitu dengann Skema Buy The Service (BTS).  Skema Buy the Service (BTS) sendiri merupakan sistem pembelian layanan angkutan massal kepada operator melalui mekanisme lelang yang berdasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Skema ini melibatkan dua aktor utama, yaitu operator kendaraan umum dan pemerintah. Pemerintah berwenang untuk menetapkan SPM, memberikan lisensi dan memberikan sanksi, serta menanggung Biaya Operasional Kendaraan (BOK) yang dikeluarkan oleh operator. Lalu operator angkutan umum berkewajiban untuk mengoperasikan angkutan umum sebaik mungkin agar dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan di SPM seperti keamanan, keselamatan, dan keteraturan.

Adapun instrumen kebijakan yang diusulkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan terkait Skema Buy The Service (BTS) ini adalah dengan penyediaan layanan Direct Shuttle Bus yang akan dioperasikan dari tiga Lokasi perpindahan moda (transfer), yaitu a) Lokasi transfer kereta, b) Lokasi transfer Bus dan Lokasi transfer Kendaraan Pribadi. Selanjutnya, dari ketiga Lokasi transfer ini layanan Direct Bus Service masing-masing akan menghubungkan tiga destinasi wisata utama di Puncak, sehingga akan ada 9 rute Layanan Direct Shuttle Bus.

Direct Shuttle Bus berfungsi untuk mengantarkan wisatawan langsung dari Lokasi transfer menuju destinasi wisata utama di Puncak supaya wisatawan dapat dengan mudah melanjutkan perjalanannya dari satu Lokasi wisata utama ke Lokasi wisata utama lainnya. Nantinya juga akan dioperasikan layanan Looping Shuttle Bus. Selanjutnya untuk memfasilitasi pergerakan wisatawan dari Lokasi wisata utama ke Lokasi lainnya di sepanjang koridor utama Puncak, maka akan dioperasikan Layanan Bus integrator. Layanan Bus integrator memfasilitasi wisatawan ke Lokasi destinasi wisata yang tepat berada di koridor utama puncak, dan juga menjadi berfungsi sebagai penghubung antar rute Direct Service.

Ada beberapa lokasi transfer sebagai titik awal layanan Direct Shuttle Bus, yaitu Stasiun Bogor yang menjadi lokasi transfer bagi wisatawan yang menggunakan kereta api, terminal Bus Baranangsiang yang menjadi lokasi transfer bagi wisatawan yang menggunakan Bus AKDP terletak di terminal Bus Baranangsiang, dan fasilitas “Park and Ride” yang menjadi lokasi transfer bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, di mana wisatawan memarkirkan kendaraannya dan berpindah ke Layanan Direct Shuttle Bus. Dari ketiga lokasi diatas, wisatawan kemudian akan melanjutkan perjalanan ke jalur puncak menggunakan transportasi umum BTS puncak Layanan Direct Shuttle Bus.

Destinasi utama Kawasan Puncak yang dipilih sebagai titik akhir Layanan Direct Shuttle Bus ditentukan berdasarkan beberapa kriteria utama, yaitu, berdasarkan hasil survey, memiliki lahan yang cukup luas untuk manuver Bus, dan terletak masuk ke dalam, agak jauh dari jalur utama Puncak. Berdasarkan kriteria tersebut, maka tiga destinasi utama Kawasan Puncak yang akan dihubungkan oleh Layanan Direct Shuttle Bus adalah Taman Safari Indonesia Cisarua, Taman Bunga Nusantara, dan Kota Bunga. Ketiga destinasi utama Kawasan Puncak ini kemudian dijadikan acuan untuk rute layanan Looping Shuttle Bus. Selanjutnya juga akan ditentukan lokasi Drop off untuk melayani tiga destinasi utama tersebut.

Penataan Hambatan Samping

Selain dari kebijakan lalu lintas, dalam mengidentifikasi persoalan penyebab kemacetan yang ada di wilayah puncak dapat melalui penataan hambatan samping pada jalur puncak. Hambatan samping yang ada di jalur puncak umumnya berupa pedagang kaki lima (PKL) yang lapaknya ada di badan jalan. Selain itu juga parkir on-street dan kendaraan keluar masuk yang dapat mengganggu arus pada wilayah puncak tersebut. Terdapat tujuh segmen jalan yang diidentifikasi hambatan samping yaitu Masjid Aataawun, Simpang Raya Palasari, Simpang Hanjawar, Pasar Cipanas, Segmen Jalan Brasco Factory – Situs Makam Idham Chalid, Segmen Jalan Labuan Cianjur – Brasco Factory dan Segmen Situs Makam Idham Chalid – SMK Negeri 1 Cisarua. Rekomendasi penataan PKL terdiri dari 2, yaitu direlokasi dengan pertimbangan pengaruhnya terhadap hambatan samping dinilai tinggi dan ditertibkan jika rendah.

Jadi dalam mengurangi kemacetan di Kawasan Puncak, pada jangka pendek dan menengah kebijakan utamanya adalah memberikan alternatif angkutan baru bagi pengguna kendaraan pribadi khususnya pergerakan wisatawan dari luar Kawasan Puncak. Alternatif angkutan baru tersebut berupa Shuttle Bus dari park-and-ride atau stasiun KRL ke destinasi wisata di Kawasan Puncak yang secara bertahap diintegrasikan dengan sistem angkutan umum yang ada atau yang direncanakan di Kawasan Jabodetabekpunjur. Sedangkan untuk jangka panjangnya adalah upaya pengendalian pemanfaatan ruang, penegakan hukum dan perencanaan sistem transportasi yang terintegrasi di dalam Kawasan Jabodetabekpunjur. (asti/halim)

Komentar

Tulis Komentar