HUB AND SPOKE SEBAGAI UPAYA PENUNJANG TOL LAUT

Jakarta—Sebagai negara kepulauan, transportasi laut memegang peranan penting dalam pengembangan dan pertumbuhan ekonomi. Tol laut menjadi salah satu program pemerintah untuk menunjang pendistribusian barang dan pengembangan eknomi di derah terpencil serta meningkatkan konektivitas antar wilayah. Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat menjadi Keynote Speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) “Hub and spoke untuk Menunjang Tol Laut”, yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) pada Selasa (16/11).

“Setiap tahunnya Tol Laut mengalami perkembangan, pada tahun 2017 terdapat penambahan trayek tol laut menjadi 13 trayek, pada tahun 2018 menjadi 15 trayek dan di tahun 2021, jumlah trayek yang dilayani telah mencapai 32 trayek dengan mengoperasikan sebanyak 32 kapal dan 114 pelabuhan serta muatan yang diangkut mencapai lebih dari 250.000 ton,” ujar Menhub.

Namun, Menhub menyebutkan bahwa program tol laut masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pengembangan potensi daerah tertinggal dan daerah-daerah yang selama ini mengalami disparitas harga yang tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sebuah jaringan pelabuhan yang mampu menjadi alternatif dalam bidang logistik kelautan dengan konsep hub and spoke.

Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umar Aris menyampaikan konsep hub and spoke sangat bermanfaat pada pengangkutan barang ke daerah yang sulit dijangkau dan tidak dilayani oleh kapal besar, sehingga rute tersebut menjadi rute terbaik dan juga menghasilkan biaya yang paling efisien dimana dapat menekan biaya operasional kapal, biaya pengiriman dengan mempertimbangkan jumlah muatan yang dibawa kapal, harga bahan bakar, dan biaya kontainer.

“Untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih optimal lagi, khususnya dalam mendukung Tol Laut ini, diperlukan kolaborasi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan atau stakeholders terkait. Kolaborasi yang baik hanya dapat terjalin apabila masing-masing telah memahami peran dan kapasitasnya, yang sudah diatur dalam suatu regulasi nasional,” ungkap Umar Aris.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Program Studi Pasca Sarjana Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, R.O Saut Gurning mengatakan terdapat beberapa dampak dan kontribusi dari pola hub and spoke yang meliputi skala spasial asal barang mencakup sumber dan tujuan barang di wilayah rural, armada & infrastruktur, logistik maritim dan aspek komersial.

Saut menambahkan sinergi antar operator tol laut serta operator eksis pelayaran lain baik secara lokal dan nasional dapat merasionalisasi waktu turn round voyage (TRV) dan jumlah kunjungan per bulan dan akan berdampak pada biaya operasi serta akumulasi alokasi subsidi.

Pakar Transportasi Universitas Gadjah Nada (UGM), Prof. Nur Yuwono menyampaikan konsep hub and spoke diperlukan apabila trayek terlalu jauh dan memakan waktu yang lama. Selain itu, pelabuhan di jalur trayek tidak memenuhi syarat untuk melayani kapal besar sehingga diperlukan kapal yang lebih kecil.

Yowono menambahkan bahwa konsep hub and spoke juga memiliki kelemahan, yakni adanya penambahan biaya saat dilakukan double handling di pelabuhan Hub. Barang harus diturunkan, mungkin disimpan dahulu baru akan dikirim ke lokasi menggunakan kapal lain.

“Apabila trayek tol laut menggunakan hub and spoke diusahakan gunakan pelabuhan hub yang berada di sistem utama Tol Laut seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Makasar dan Bitung. Dengan demikian sistem pergerakan barang dari barat ke timur wilayah Indonesia atau sebaliknya menjadi lancar dan pengembangan dipelabuhan di lima pelabuhan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik,” jelas Yuwono.

Pakar Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia (SCI), Rudy Sangian menyatakan perlu adanya terobosan dan inovasi untuk bisa meningkatkan muatan balik tol laut. Salah satu yang perlu dilakukan adalah pembentukan taks force tol laut.

Hadir sebagai pembahas, Staf khusus Untuk Urusan Ekonomi dan Investasi Transportasi Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Wihana Kirana Jaya lebih menyoroti pada sisi demand. Bagaimana tol laut dapat mencapai tujuan awal yakni untuk menurunkan disparitas harga di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

“Untuk menunjang tol laut terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan antara lain, hilirisasi produk di mana sumber daya alam maupun pertanian yang ada di daerah tujuan tol laut dapat diolah menjadi suatu produk yang lebih bernilai, digitalisasi UMKM, serta transformasi ekonomi dari ekonomi ekstraktif menjadi ekonomi hijau,” jelasnya.

Kasubdit Angla Khusus & Usaha Jasa Terkait, Direktorat Angkutan Laut, Capt. Bharto Ari Raharjo menyampaikan bahwa konsep Hub and Spoke telah masuk dalam rencana strategi tahun 2022. “Pola grayek hub and spoke perlu dilakukan agar pelayanan kapal tol laut dapat menjangkau lebih banyak pelabuhan singgah dalam mendistributsikan, barang pokok dan lainnya ke wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (T3P) dengan TRV yang singkat,” ungkapnya.

Turut hadir dalam FGD kali ini, Bupati Kabupaten Tahuna Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana; Pakar Trasnportasi Universitas Gadjah Mada, Danang Parikesit; Direktur Sarana Distribusi dan Logistik, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan; Pakar Transportasi Universitas Hasanudin, Muhammad Yamin Jinca; dan Pakar Transportasi Universitas Patimura, Marcus Tukan.

Komentar

Tulis Komentar