FOKUS KAJI KESELAMATAN PENERBANGAN DAN KONEKTIVITAS PARIWISATA, BALITBANGHUB GELAR DISKUSI TERARAH BERSAMA STAKEHOLDER

Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Badan Litbang Perhubungan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara (Puslitbang Transportasi Udara) kembali menyelenggarakan kegiatan diskusi terarah terkait keselamatan penerbangan dan konektivitas pariwisata pada Kamis (5/11). Kegiatan diskusi ini dilakukan guna mendapatkan masukan yang komprehensif dari berbagai stakeholder, baik operator, swasta, maupun masyarakat sehingga dapat diperoleh hasil kajian yang sempurna.


“ini merupakan kegiatan Badan Litbang Perhubungan yang sedang berbenah dari tahun ke tahun, sehingga kita membutuhkan sinergi dan diskusi terus menerus bersama para stakeholder terkait,” ujar Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti


Hayati menambahkan diskusi terarah kali ini menampilkan 3 hasil penelitian yang disampaikan dengan judul Kesiapan Indonesia dalam Implementasi Pelatihan Berbasis Upset Prevention and Recovery Training (UPRT) oleh Minda Mora, Analisis Kecelakaan Pesawat Terbang di Indonesia oleh Susanti serta Harmonisasi Waterbase Airport dan Kebutuhan Wisata Kepulauan oleh Ali Murtado. Ketiga penelitian ini dikategorikan kedalam dua kelompok, yakni keselamatan penerbangan, dan konektivitas pariwisata.


 

Keselamatan Penerbangan


Keselamatan penerbangan menjadi sebuah faktor yang sangat penting dalam industri penerbangan. Hal ini mencakup aspek pengaturan, pengendalian dan pengawasan terhadap kegiatan pembangunan, pendayagunaan, dan  pengembangan sistem pelayanan keamanan.


Kepala Puslitbang Transportasi Udara, Novyanto Widadi mengatakan bahwa dalam bisnis transportasi yang sangat mengutamakan keselamatan, tentu tidak lepas dari training, technology, and regulation (TTR).


“Dalam hal training tentu dibutuhkan modul yang tepat, kemudian instruktur yang handal dengan silabus yang tepat, teknologi dengan pesawat yang baik, maupun simulator yang memadai, serta didukung dengan regulasi di dalamnya,” ujarnyanya.

 

Upset merupakan suatu kondisi dimana pesawat udara secara tidak sengaja melebihi parameter yang biasanya dialami dalam operasi atau jalur penerbangan. Hal ini tentu cukup berbahaya, oleh karena itu, UPRT perlu dipersiapkan.


UPRT merupakan kombinasi dari pengetahuan teoritis dan pelatihan terbang yang bertujuan untuk memberikan awak pesawat kompetensi yang dibutuhkan untuk mencegah dan memulihkan diri dari situasi pesawat yang secara tidak sengaja melebihi parameter. Pelatihan ini merupakan upaya untuk mengurangi resiko terjadinya Loss of Control In-Flight (LOC-I).


“LOC-I adalah kecelakaan pesawat dimana kru penerbang tidak dapat mempertahankan kendali pesawat terbang, yang tentunya hal ini akan mengakibatkan penyimpangan jalur penerbangan yang tidak dapat dipulihkan,” ujar Peneliti Puslitbang Transportasi Udara, Minda Mora.


Berdasarkan hasil kajian, UPRT di Indonesia sudah diatur dalam CASR 121 amandemen 12, namun hal ini belum bersifat mandatory. Selain itu, regulator harus meningkatkan kualifikasi inspektor untuk melakukan UPRT, serta meningkatkan kualitas alat-alat UPRT.


Untuk diketahui, berdasarkan data yang dihimpun oleh Peneliti Pulitbang Transportasi Udara, Susanti,, pada tahun 2018 terdapat 98 kali kecelakaan penerbangan, dengan 15 diantaranya fatal.

 

Konektivitas Pariwisata


Dalam rangka menunjang konektivitas destinasi wisata 10 Bali Baru, maka akses infrastruktur untuk menuju lokasi destinasi pariwisata tersebut harus ditingkatkan. Kementerian Perhubungan dalam hal ini Badan Litbang Perhubungan, ikut berkontribusi memajukan pariwisata di tanah air khususnya melalui transportasi udara dengan membuka atau menambah rute baru dari dan menuju destinasi pariwisata.


Dari 10 destinasi wisata tersebut, beberapa diantaranya adalah destinasi wisata perairan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan aksesibilitas dari dan menuju wilayah tersebut, dapat menggunakan pesawat amphibi yang mampu mendarat di perairan. Tentunya dengan adanya pesawat amphibi ini, diperlukan pembangunan infrastruktur penunjang seperti bandara perairan (waterbase airport).


“Indonesia memiliki peluang cukup besar, karena 80% wilayah Indonesia adalah perairan,” ujar  Peneliti Puslitbang Transportasi Udara, Ali Murtado.


Ali juga menyampaikan, masing-masing wilayah perairan di Indonesia mempunyai daya Tarik wisata yang memiliki keunikan, keaslian, dan memiliki nilai yang tinggi. Jika hal ini didukung dengan pembangunan bandar udara perairan, diharapkan akan menarik maskapai untuk menambah rute penerbangan.


Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, terdapat 11 wilayah yang dilakukan survei, diantaranya Pulau Weh, Sabang, Aceh; Pulau Nias, Sumatera Utara; Kep. Mentawai, Sumatera Barat; Bintan, Kep. Riau; Banda Neira, Maluku; Tanjung Setia, Lampung; Tanjung Kalayang, Kep. Bangka Belitung; Kep. Seribu, DKI Jakarta; Karimun Jawa, Jawa Tengah; Tulamben, Bali; Sawu, NTT; serta Tanjung Lesung, Banten.


Berdasarkan kajian, dari ke 11 wilayah tersebut, beberapa diantaranya tidak memerlukan waterbase airport, yaitu Pulau Weh, Sabang, Aceh; Pulau Nias, Sumatera Utara; Bintan, Kep. Riau; Tanjung Kalayang, Kep. Bangka Belitung; Kep. Seribu, DKI Jakarta; Tulamben, Bali; serta Sawu, NTT. Beberapa destinasi tersebut masih dapat ditempuh dengan waktu kurang dari 1 jam, sehingga dinilai tidak memerlukan waterbase airport.



Turut hadir dalam diskusi kali ini Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat, Dadun Kohar; Kepala Otoritas Bandara Wilayah I, Moh. Alwi; serta perwakilan dari Direktorat Bandar Udara, Direktorat Angkutan Udara dan beberapa operator bidang penerbangan.

Komentar