DUKUNG POTENSI WISATA DI INDONESIA, BALITBANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN GELAR FGD TENTANG PENGEMBANGAN BUS TANAH AIR

Wakatobi - Puslitbang Transportasi Laut Sungai, Danau dan Penyeberangan Balitbanghub Kementerian Perhubungan menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada Selasa (8/9). Kajian diskusi bertajuk “Potensi Penggunaan Bus Tanah Air dalam Rangka Mendukung Pengembangan Sektor Pariwisata” ini, dilakukan untuk meningkatkan perbaikan infrastruktur di bidang wisata.  

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Umiyatun Hayati Triastuti dalam sambutannya menjelaskan, kehadiran bus tanah air di Indonesia dapat memberikan nilai tambah pada bisnis kepariwisataan. Namun, ada beberapa aspek yang saat ini perlu diperhatikan agar pengembangan bus tanah air ini dapat berjalan lancar, salah satunya ada regulasi dari pemerintah.

“Kita memerlukan sinkronisasi UU Nomor  22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, PP No. 55 tentang Kendaraan, dan UU Nomor 17 Tahun 2018 tentang Pelayaran untuk pengoperasian Bus Tanah Air,” ucap Hayati.

Tak hanya itu, pengoperasian bus tanah air juga memerlukan berbagai pertimbangan seperti karakteristik dan kondisi perairan, kesiapan SDM, hingga studi tentang lokasi pengoperasian bus tanah air yang mempunyai di daerah yang tempat wisatanya paling banyak dikunjungi.

“Dalam Focus Group Discussion ini diharapkan mendapatkan masukan terkait dengan pengoperasian, jenis dan tipe kebutuhan bus tanah air Indonesia yang sesuai dengan kondisi wilayah pariwisata di Indonesia,” lanjut Hayati.

Dok. Sambutan Kepala Badan Litbang Perhubungan secara virtual 

Sementara itu, Kapuslitbang Transportasi Laut Sungai, Danau dan Penyeberangan I Nyoman Sukayadnya menjelaskan, saat ini pemerintah sedang mencanangkan “10 The New Bali” atau sepuluh daerah yang berpotensi menjadi pusat wisata seperti Danau Toba, Tanjung Kelayanga, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribut, Borobudur, Kawasan Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Menurut Nyoman, kehadiran bus tanah air dapat meningkatkan potensi wisata di sepuluh daerah tersebut. “Peran Bus Tanah Air sangat penting dalam memberikan pelayanan transportasi di daerah pedalaman dan daerah terpencil dimana fasilitas moda transportasi lain belum tersedia,” jelas dia.

Nyoman juga bertemima kasih kepada Pemerintah Daerah Wakatobi atas dukungannya sehinga acara ini dapat berlangsung dengan baik dan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Pada kajian diskusi ini, pembicara pertama yang memberikan pemaparannya adalah Dr. Ir. Ganding Sitepu dengan topik “Potensi Lokasi Penggunaan Bus Tanah Air pada Obyek Wisata”. Pertama-tama, Ganding menjelaskan tentang beberapa keunggulan bus tanah air, salah satunya yaitu digunakan di dearah danau, situ, atau kanal.

“Di Indonesia sangat potensial kendaraan amfibi dengan rancangan sederhana, dan kecil karena banyaknya destinasi wisata perairan. Apalagi, bus tanah air merupakan kendaraan yang rancangannya ramah lingkungan,” ucap Ganding.

Namun, menurut Gandi, pengembangan alat transportasi ini juga memiliki banyak kendala. Beberapa di antaranya yaitu belum tersedianya perusahaan manufaktur yang berpengalaman, standar desain kendaraan, hingga diperlukan studi yang lebih mendalam terkait topografi pada pantai dan danau.


Pembicara lain pada FGD kali ini adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Dr. Saka Pati, S.H, M.H. Melalui pemaparannya, Saka menjelaskan, pengembangan bus tanah air memang bisa menjadi salah satu faktor pendukung pariwisata di Indonesia. Namun, Pengembangan alat transportasi ini perlu memperhatikan berbagai elemen di antaranya:

- Harus memperhatikan konservasi atau perluasan sumber daya alam untuk menjamin keberlanjutan ekosistem.

- Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal untuk menjamin kekuatan ekonomi.

- Mendorong apresiasi terhadap adat istiadat dan keragaman budaya untuk menjamin kelangsungan budaya lokal.

Komentar