BERBAHAYA TERHADAP PENERBANGAN, BALITBANGHUB KAJI ANTI BIRDSTRIKE

Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara menggelar diskusi terarah dengan topik Pengembangan Anti Bird Strike Yang Efektif Untuk Bandara di Indonesia pada Selasa (1/12). Bird Strike adalah tabrakan antara burung (baik tunggal maupun berkelompok) dengan pesawat udara pada saat proses penerbangan. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi keselamatan penerbangan.

“ini berpotensi menimbulkan kerusakan pesawat yang menyebabkan kerugian secara finansial, dan juga menyebabkan pesawat jatuh sehingga menimbulkan korban jiwa,” ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara, Novyanto Widadi

Berdasarkan survei yang dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2020 berhasil mencartat 90 jenis burung, dan 15 jenis burung diantaranya merupakan migran. Survei kedua dilaksanakan pada bulan Oktober-November, yang dimaksudkan selain mencatat jenis resident tetapi juga untuk mencatat jenis migran yang berpotensi menggunakan habitat di dalam bandara, dan berpotensi membahayakan penerbangan.

Pada umumnya gangguan burung terjadi dilingkungan bandara dengan ketinggian yang rendah. “Secara global sejak 2008 hingga 2015, tercatat sebanyak 31 persen bird strike terjadi pada saat pesawat lepas landas, dan 59 persen terjadi saat pendaratan,” imbuhnya.

Kasus gangguan burung terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pesawat, serta berkembangnya teknologi pesawat. “Saat ini pesawat sudah semakin cepat, jadi benda sekecil apapun akan menimbulkan akibat yang luar biasa,” ujar Novyanto.

Ia menambahkan, kerusakan pesawat akibat bird strike paling banyak terjadi pada bagian mesin dengan persentase sebesar 21 persen, kemudian bagian sayap 19 persen, dan bagian lainnya 20 persen. Kerusakan pesawat ini tentunya dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal, dan bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Oleh karena itu perlu ada upaya mitigasi yang dilakukan untuk mengurangi gangguan burung ini.

Terdapat beberapa rekomendasi strategi berdasarkan hasil kajian yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan bird strike ini diantaranya pilot diharapkan untuk tidak bergantung pada radar cuaca, lampu pendaratan, ataupun jarak pandang untuk mencegah bird strike. Selain itu, Operasi penerbangan juga dinilai perlu dikembangkan untuk mengantisipasi aktivitas burung disekitar wilayah penerbangan.

Untuk diketahui, Bandara Kualanamu telah melakukan beberapa upaya mitigasi antara lain, Accoustic Bird Deterent Equipment, Laser Bird Deterent Equipment, Bird Trap/Jaring, grass cutting management pada malam hari, pengendalian dan pengusiran burung secara manual oleh tim Pengusir Burung, serta mengusulkan NOTAM Bird Strike.

Komentar