Balitbanghub Susun Rencana Induk Bandar Udara Perairan di Pulau Gili Iyang, Pulau Senua dan Danau Toba

Dalam rangka memenuhi kebutuhan jasa angkutan udara di Indonesia, Balitbanghub membuat studi perencanaan induk (masterplan) bandar udara perairan (seaplane) di Pulau Gili Iyang, Pulau Senua dan Danau Toba. Pemilihan ketiga tempat ini didasarkan pada kajian sebelumnya yang bertajuk “Studi Potensi untuk Ditetapkannya Lokasi Bandar Udara Perairan dan untuk Pengoperasian Pesawat Udara Perairan di Indonesia”. 

Pembuatan masterplan ini didasarkan pada ketersediaan bandar udara perairan yang masih sedikit. Padahal, bandar udara perairan punya banyak manfaat mulai dari pengembangan sektor pariwisata, transportasi antarpulau-pulau terluar dan terdalam, serta kebutuhan dalam tugas-tugas administrasi kepemerintahan.

Konsep Rencana Induk Bandar Udara Perairan

Rencana induk pembangunan bandar udara perairan di Indonesia mengacu pada beberapa konsep, yaitu: 

- Efektivitas dan efisiensi pemanfaatan fasilitas berdasarkan kebutuhan.

- Ketersediaan lahan yang ada dan lahan yang potensial menjadi bagian dari areal pengembangan.

- Tingkat dan jenis kebutuhan fasilitas sesuai hasil perhitungan peramalan jumlah lalu lintas angkutan udara.

- Kapasitas dan kebutuhan fasilitas yang dapat ditoleransi oleh aspek keselamatan penerbangan.

- Kemampuan riil teknis (operasi pergerakan pesawat di runway pada waktu taxi) bandara dan pendanaan termasuk pemanfaatan fasilitas yang akan terpasang di bandar udara nanti.

- Kondisi riil geografis, topografis, dan obstacle kawasan ruang udara yang ada di sekitar bandar udara.

Pada studi ini, Balitbanghub Kementerian Perhubungan juga telah melakukan analisis dampak pembangunan bandar udara perairan terhadap kondisi ekonomi dan finansial. Salah satu manfaat ekonomi dari upaya pembangunan ini adalah mobilitas orang dan barang dari dan ke Pulau Perairan lebih meningkat karena akses mereka tidak terganggu ketika terjadi gelombang air laut tinggi. 

Dengan adanya bandar udara perairan, daya saing antarwilayah di bidang pembangunan juga meningkat. Hal ini secara tidak langsung juga akan mendorong percepatan pertumbuhan pertumbuhan investasi. 

Dari hasil perhitungan indikator kelayakan ekonomi yang dilakukan, pembangunan bandara perairan di Pulau Gili Iyang, Pulau Senua dan Danau Toba diprediksi dapat menguntungkan secara ekonomi dengan Economic Internal Rate of Return (EIRR) lebih dari 12 persen. 

Rencana induk bandar udara perairan (waterbase) akan dilakukan ke dalam dua tahap: tahap I di tahun 2026 dan tahap II pada tahun 2031. Sementara itu, jenis pesawat yang akan beroperasi pada bandara Pulau Gili Iyang, Pulau Senua dan Danau Toba adalah Twin Otter (DHC-6 Series 400). Alat transportasi ini merupakan pesawat dengan roda pendaratan yang dilengkapi dengan amfibi mengapung tipe Wipline 8000 sehingga memiliki tingkat kebisingan yang kecil. 

Untuk bisa mewujudkan pembangunan bandar udara perairan ini, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan. Mulai dari penyempurnaan regulasi dan harmonisasi antara stakeholder, hingga pengaturan pengoperasian seaplane di Indonesia. 



Komentar