BALITBANGHUB KAJI STRATEGI PEMULIHAN BISNIS ANGKUTAN JALAN DAN PERKERETAAPIAN UNTUK TRANSPORTASI BERKELANJUTAN

Jakarta- Dalam enam bulan terakhir, pandemi Covid-19 mengharuskan sektor transportasi melakukan berbagai inovasi. Penerapan peraturan baru bertujuan agar transportasi tetap bisa menyediakan layanan yang aman dan selamat bagi para penumpangnya. Perlu ditekankan, penelitian terbaru menyebutkan bahwa angkutan umum bukan klaster persebaran Covid-19.     

Di samping itu, strategi pemulihan bisnis transportasi juga perlu diperhatikan agar sektor ini tetap bisa memberi kontribusi optimal bagi pembangunan nasional. Salah satu caranya dengan mengoptimalkan transportasi berkelanjutan yang mengintegrasikan bidang transportasi dengan sektor-sektor yang saling berkaitan seperti pariwisata dan industri.

Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) bekerja sama dengan para peneliti asal Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kajian terkait strategi pemulihan bisnis di bidang angkutan jalan dan perkeretaapian. Diseminasi hasil kajian dilakukan melalui webinar bertajuk Strategi Pemulihan Bisnis Angkutan Jalan dan Perkeretaapian, Senin (21/9). Webinar ini merupakan webinar series #4 yang merupakan rangkaian dari peringatan Hari Perhubungan Nasional 2020.

Webinar dihadiri Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti; Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kennedy Simanjuntak; dan Sekretaris Jendral Kementerian Perhubungan, Djoko Sasono.  

Ahli Perencanaan Transportasi UGM, Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, M.T., IPU; Ahli Ekonomi Transportasi dan Logistik UGM, Hengki Purwanto, S.E., M.A.; Ahli Kebijakan Transportasi dan Perencanaan Regional ITB, Dr. Ir. Ibnu Syabri menjadi pembicara dalam webinar kali ini. Hadir sebagai pembahas adalah Sekretaris Direktorat Jendral Perkeretaapian, Zulmafendi; Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim; Direktur Utama PT Sinar Jaya, Teddy Rusly, serta Peneliti Madya Badan Litbang Perhubungan, Abdul Mutholib.

Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti, dalam sambutannya menyampaikan tren perubahan pergerakan orang akibat pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya penurunan perjalanan di kota-kota besar di dunia baik di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Penurunan penumpang transpoirtasi umum sebesar 50%-90% dibandingkan kapasitas normal juga terjadi di Indonesia, Khususnya di Jakarta. Penurunan ini terjadi di semua moda transportasi termasuk perkeretaapian dan angkutan jalan. Untuk itu diperlukan strategi pemulihan bisnis angkutan jalan dan perkeretaapian dengan paradigma yang lebih humanis.

Jumlah penumpang angkutan umum jalan mengalami penurunan pergerakan pada fase Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik. Kemudian kembali meningkat pada masa PSBB transisi. Kebijakan pengendalian sosial ini telah mendorong penurunan pergerakan orang yang secara langsung berdampak pada penurunan volume penumpang angkutan perkeretaapian sebesar 68% dan penurunan pendapatan operator angkutan jalan dan perkeretaapian sebesar 90%-100%.

Upaya menekan angka persebaran Covid-19 dilakukan dengan menetapkan sejumlah regulasi baik berbentuk peraturan presiden (perpres), peraturan pemerintah (PP), hingga keputusan presiden (keppres). Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian sebagai bagian dari Badan Litbang Perhubungan juga melakukan kajian mengenai pengaruh pandemi terhadap sektor transportasi jalan dan perkeretaapian untuk merumuskan upaya pengendalian terhadap dampak pandemi di sektor transportasi jalan dan perkeretaapian. Kajian ini diharapkan mampu mampu melahirkan kebijakan yang solutif dan aplikatif.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Budi Gunawan Sadikin melalui rekaman video menyampaikan krisis akibat Covid-19 menjadi fenomena baru bagi warga dunia. Pasalnya, krisis ini disebabkan oleh faktor kesehatan, bukan lagi faktor keuangan seperti krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Sehingga kini, kesehatan dan ekonomi seolah menjadi dua hal yang kontradiktif.

“Untuk itu inovasi harus dilakukan dengan memperbanyak penggunaan moda transportasi yang mengarah ke normal baru seperti sepeda. Di mana pengendara tidak perlu berada di ruang tertutup dan ber-AC. Moda transportasi jarak dekat yang ramah Covid-19 perlu dirumuskan untuk menggerakkan ekonomi sekaligus aman,” ungkap Budi. Inovasi lainnya adalah menyiapkan infrastruktur kesehatan di masa depan, pengaplikasian teknologi pada layanan transportasi, serta adanya arah kebijakan dan regulasi yang relevan dengan keadaan.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Keneddy Simanjuntak, memaparkan jumlah penumpang kereta api rute Jabodetabek pada 2020 memang menurun drastis jika dibandingkan pada 2019 silam. Keadaan ini berpengaruh pada pendapatan langsung dari sektor transportasi. Namun demikian, Keneddy yakin, Indonesia akan mampu bertahan secara ekonomi.

Kennedy menekankan saat ini yang terpenting adalah tetap mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19 di tempat-tempat publik. Bersamaan dengan keadaan ini, pemerintah tengah menyusun strategi baru untuk pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Strategi disusun untuk mengembalikan aktivitas manusia menjadi lancar dan aman. Pemerintah menargetkan peningkatan pembangunan di bidang industri, infrastruktur, dan pariwisata. Dengan demikian rencana integrasi layanan transportasi dengan sektor industri lain sebagai wujud inovasi bisa berjalan.

Menurut Kennedy, transportasi memang tidak bisa berjalan sendiri tanpa terpengaruh sektor pembangunan lain. Selain integrasi layanan transportasi dan industri, pemerintah juga akan melakukan integrasi antarmoda, misalnya antara bus dan angkuta. Manajemen transportasi yang baik dipercaya mampu menjamin mobilitas warga menjadi aman dan selamat.      

Sekretaris Jendral Kementerian Perhubungan, Djoko Sasono, menekankan pentingnya aplikasi atas kebijakan yang sudah dibuat. Hal tersebut penting dilakukan untuk mengamankan aktivitas yang bergantung pada moda transportasi. “Benefit untuk ekonomi satu paket dengan transportasi, jadi jangan sampai gulung tikar semua,” ujar Djoko.

Dampak negatif di sektor transportasi akibat pandemi menurut Djoko bisa ditekan dengan masifnya pemakaian teknologi informasi. Selain itu, sektor transportasi juga harus mampu memberikan pengalaman dan tak sekadar menjadi moda. Sebagai contoh melakukan kegiatan yang melibatkan sektor transportasi dan pariwisata. “Pariwisata paling cepat memberikan experience, misalnya untuk pergi ke pantai. Sehingga keduanya kita kawinkan agar transportasi juga bisa survive,” imbuh Djoko. Dengan demikian, diperlukan kreativitas untuk menghidupkan transportasi dan sektor-sektor yang terlibat di dalamnya. Bertemunya para pakar dan pelaku transportasi diharapkan mampu mensinergikan kebijakan untuk menyelamatkan transportasi. 

Ahli Ekonomi Transportasi dan Logistik UGM, Hengki Purwanto, S.E., M.A., menjelaskan terkait bisnis perkeretaapian yang omzetnya menurun drastis, operator perlu melakukan sejumlah terobosan. Operator kereta api perlu mencari solusi untuk menutup selisih pendapatan (revenue gap) dalam rangka pemulihan bisnis kereta api. Strategi yang bisa dilakukan adalah dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru dan penciptaan pasar yang baru. Hengki memberi contoh kereta barang bisa mengoptimalkan pengangkutan komoditas yang tetap banyak dibutuhkan pada masa pandemi. Kebutuhan tersebut antara lain distribusi obat, peralatan medis, sembako, bahan pertanian, dan vaksin.

Pengembangan layanan berbasis barang ini tidak mengabaikan kebutuhan penumpang. Operator kereta api perlu mengimbanginya dengan adaptasi kebiasaan baru seperti pengurangan jumlah penumpang pada tiap perjalanan kereta untuk mendukung pembatasan sosial, pengaturan jadwal untuk menjaga jumlah optimal penumpang dalam stasiun, dan peningkatan kapasitas protokol pencegahan.    

Ahli Kebijakan Transportasi dan Perencanaan Regional, Dr. Ir. Ibnu Syabri, mengatakan untuk memulihkan bisnis sektor transportasi pemerintah perlu memberlakukan relaksasi pajak. Di antaranya kebijakan penundaan pemungutan pajak, pembebasan biaya BBN-KB dan pajak kendaraan bermotor (PKB), dan penghapusan sanksi administratif keterlambatan pembayaran pajak.

Ibnu merekomendasikan kebijakan insentif ekonomi yang perlu diberikan seperti pemberian subsidi BBM bagi angkutan umum sesuai dengan faktor keterisian (load factor). Pembebasan beban biaya pengujian kendaraan bermotor bagi armada angkutan umum jalan, dan pembebasan pembayaran tol bagi angkutan umum plat kuning. Kendati demikian, kebijakan insentif ekonomi juga harus berpihak kepada angkutan kota (angkuta). Meski terhitung sebagai kendaraan umum, kepemilikan angkuta ditetapkan oleh individu, bukan perusahaan perseroan. Sistem inilah yang kerap membuat angkuta tak tersentuh bantuan pembiayaan. Nasib angkuta juga makin tak karuan ketika bersaing dengan kendaraan sistem daring.

Pembenahan manajemen angkuta, menurut Ibnu perlu dilakukan dengan mengubah sistem dari keuntungan perorangan menjadi usaha bersama antarpemilik. Angkuta bisa diperlakukan layaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) sehingga memungkinkan untuk mendapatkan bantuan finansial. Keuntungan lainnya, angkuta bisa memanajemen mobilitas masyarakat kelas bawah yang tidak hanya mengangkut orang tetapi juga barang.   

Ahli Perencanaan Transportasi UGM, Ir. Agus Taufik Mulyono, M.T., IPU, menyatakan sektor transportasi seharusnya mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Penelitian terbaru dari sejumlah negara menyatakan penularan Covid-19 tidak berasal dari klaster angkutan umum. Sebagian besar justru terjadi sebelumnya.

Strategi pemulihan bisnis dilakukan dengan merespons kondisi baru dalam pengelolaan angkutan kereta api. Setidaknya yang perlu menjadi perhatian dalam pemulihan bisnis yakni pengendalian transportasi sebagai bentuk pengendalian terhadap Covid-19, pengaturan sarana dan prasarana, menciptakan peluang baru dalam bisnis kereta api utamanya di bidang logistik, dan transformasi sistem menjadi lebih humanis untuk pemulihan sektor kereta api.

Operator perlu mengutamakan nilai kemanusiaan agar ekonomi berjalan lebih baik. Caranya dengan memposisikan kereta api sebagai bagian dari transportasi yang humanis, mengalokasikan sumber daya untuk mewujudkan sistem transportasi yang humanis, serta pennguatan organisasi dan manajemen mulai tingkat individu.

Para pelaku transportasi setuju dengan berbagai gagasan yang dikaji selama webinar. Sekretaris Direktorat Jendral Perkeretaapian, Zulmafendi; menyebutkan angkutan barang memang lebih stabil pada masa pandemi Covid-19. Namun sebagai langkah pemulihan bisnis setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan yakni penguatan arus keuangan, penyediaan layanan kesehatan dan digital bagi calon penumpang kereta api, serta dukungan subsidi di sektor perkeretaapian.

Mewakili lembaga swasta, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim, menyebutkan pandemi membuat transportasi kereta harus berpikir jauh ke depan. MRT Jakarta menggagas program Bangkit Bersama untuk mewujudkan sarana transportasi yang bersih, aman, nyaman, ramah lingkungan (go-green), kolaboratif, inovatif, dan memiliki tata kelola yang baik. Selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi para penumpang, strategi pemulihan ekonomi dilakukan dengan menjual berbagai inovasi produk seperti smart locker bahkan co-working space.

Di sektor angkutan jalan, Direktur Utama PT Sinar Jaya, Teddy Rusly mengusulkan adanya regulasi ketat yang mengatur pemilik moda swasta/ nonsubsidi pemerintah. Stigma terkait persebaran Covid-19 di angkutan umum yang terlanjur melekat membuat perusahaan transportasi swasta bersaing ketat agar bisnis mereka tak gulung tikar. Regulasi diharapkan mampu mengontrol perilaku pemilik usaha agar tidak memonopoli pasar.

Terakhir, Peneliti Madya Badan Litbang Perhubungan, Abdul Mutholib menyampaikan untuk dapat bertahan, sektor transportasi tetap harus memiliki penawaran (supply) dan mendapatkan permintaan (demand) yang seimbang sesuai dengan prinsip ekonomi.    

Komentar