BALITBANGHUB KAJI PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI JALAN

Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian (Puslitbang Transportasi Jalan dan Perkeretaapian) kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait transportasi jalan dengan tema Peningkatan Pelayanan Sarana dan Prasarana Dalam Mendukung Kelancaran Transportasi Jalan hari Rabu (4/11).  Seperti diketahui, bahwa sektor transportasi memiliki 5 kondisi yang perlu ditingkatkan kualitasnya diantaranya aksesibilitas, keselamatan, pelayanan angkutan umum, kesadaran berlalu lintas dan kemacetan.


FGD kali ini menghadirkan 3 pembicara, diantaranya Hartono dengan topik Efektifitas Penyelenggaraan Terminal Tipe A, Reni Puspitasari dengan topik Pengembangan Transportasi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional di Borobudur, serta Tetty Sulastry Mardiana dengan topik Kebutuhan Tempat Parkir di Kawasan Industri Cikarang.



Efektifitas Penyelenggaraan Terminal Tipe A


Terminal merupakan prasarana yang sangat efektif dalam menunjang kelancaran perpindahan penumpang atau barang serta keterpaduan intramoda dan antar moda. Terminal-terminal di kota besar seperti Jakarta saat ini sudah memiliki sistem dan pengelolaan yang baik. Namun berbeda dengan Terminal Mangkang di kota Semarang.

Mayoritas bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) serta angkutan perkotaan (Angkot) Sebagian besar tidak masuk ke dalam terminal. Dengan banyaknya agen bus, sehingga menimbulkan tingkat kesemrawutan transportasi di Kota Semarang.


Kepala Balitbanghub, Umiyatun Hayati Triastuti mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat telah melakukan langkah-langkah strategis bagaimana mengembangkan Transit Oriented Development (TOD), atau buy the service untuk dapat meningkatkan pelayanan. Namun semua itu tidak bisa lepas dari peran serta Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.


“Tentunya ini semua tidak terlepas dari land use planning, dan Pemda harus memiliki semangat untuk menjadikan asset negara ini menjadi suatu asset yang memberikan manfaat kepada masyarakat dan bisa produktif,” ujarnya.


Berdasarkan hasil pengamatan, hal ini terjadi akibat letak Terminal Mangkang yang tidak sesuai dengan pola pergerakan masyarakat, sehingga fungsinya menjadi kurang efektif. Selain itu, perlu ada penyesuaian jadwal angkutan pemadu moda dengan jadwal keberangkatan dan kedatangan Bus AKAP dan AKDP. Berkaca dari kondisi ini, sistem manajemen informasi terkait jadwal kedatangan dan keberangkatan dinilai perlu diterapkan.


Pengembangan Transportasi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional di Borobudur


Kawasan Borobudur kini telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas atau 10 “Bali Baru” yang saat ini sedang terus dikembangkan. Salah satu aspek yang dikembangkan adalah integrasi moda transportasi.


Transportasi adalah penunjang utama dan menjadi unsur penting dalam kegiatan pariwisata. “Selama ini menuju Kawasan wisata selalu memakai kendaraan pribadi, maka sangat dibutuhkan aksesibilitas transportasi publik,” tutur Hayati.


Berdasarkan hasil kajian, untuk dapat meningkatkan kunjungan wisata di Kawasan Borobudur, maka perlu disediakan pelayanan angkutan khusus pariwisata. Hal tersebut dapat diraih dengan mengembangkan angkutan wisata khusus di Kawasan Borobudur dan sekitarnya yang berupa shuttle, sehingga calon penumpang cukup mendatangi penyedia jasa (pool shuttle), hal ini tentunya akan mempermudah aksesibilitas wisatawan untuk mengunjungi KSPN Borobudur.


Kebutuhan Tempat Parkir di Kawasan Industri Cikarang


Kawasan industri Cikarang terbagi menjadi 7 kawasan diantaranya, kawasan industry MM2100, Delta Silicon I, EJIP, BIIE, Jababeka I, Jababeka II, dan Delta Silicon II. Keberadaan kawasan-kawasan industry tersebut secara tidak langsung memantik peningkatan volume kendaraan logistik yang cukup banyak.


Tentunya dengan volume kendaraan logistik tersebut, memerlukan lahan parkir yang memadai juga. Berdasarkan hasil kajian, kebutuhan lahan parkir yang perlu disediakan untuk pengalihan kendaraan angkutan yang parkir on street adalah sebesar 11.637 M², selain itu untuk mengakomodir kebutuhan parkir saat jam sibuk, maka luas lahan parkir perlu ditambah  20% menjadi 1,5 Ha. Untuk diketahui, saat ini ketersediaan lahan parkir eksisting berada di Cikarang Dry Port yang berlokasi cukup jauh dari lokasi bongkar muat, hal ini menyebabkan meningkatnya penggunaan bahu jalan untuk parkir sehingga mengurangi kapasitas jalan.


“Walaupun hanya terkait tempat parkir, namun isu sebenarnya adalah kemacetan, ketidakefisienan yang terjadi di Kawasan strategis ini akan berdampak pada sekelilingnya,” ujar Hayati.


Berdasarkan hasil kajian, hal ini dapat ditanggulangi dengan menyediakan lahan parkir off street dengan rencana desain parkir yang dapat menampung 200 truk wing box dan peti kemas atau 350 truk engkel.


Turut hadir dalam FGD kali ini Direktur Prasarana Transportasi Jalan, Ditjen Perhubungan Darat, Mohammad Risal Wasal; Direktur Angkutan Jalan, Ditjen Perhubungan Darat, Ahmad Yani; Serta Kasubdit Lalu Lintas Transportasi Darat, BPTJ, Bram.

Komentar