BALITBANGHUB GELAR WEBINAR PENINGKATAN DISTRIBUSI LOGISTIK SISI DARAT GUNA MENEKAN BIAYA LOGISTIK NASIONAL

Jakarta- Dalam rangka menggali masukan, saran dan pandangan dari stakeholder terkait strategi transportasi laut dalam upaya menekan biaya logistik, Badan Litbang Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyeberangan (LSDP) menggelar webinar dengan tajuk Upaya Peningkatan Distribusi Logistik Sisi Darat Guna Menekan Biaya Logistik Nasional pada Jumat (12/3).

“Melalui kegiatan ini kita akan coba mengidentifikasi dan mengelaborasi bagaimana cara untuk menekan biaya logistik sehingga berdanpak pada high cost economy,” ujar Plt. Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umar Aris.

Saat ini seluruh elemen bangsa tengah memusatkan perhatiannya pada upaya penanganan pandemi Covid-19, pada saat yang sama Pemerintah menyisipkan isu logistik sebagai salah satu stimulus kebijakan yang harus tetap dilaksanakan.

“Namun perlu disadari bahwa biaya logistik nasional saat ini 23% terhadap PDB yang termasuk tertinggi di lingkungan negara ASEAN,” ungkap Umar.

Tingginya biaya logistik ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain volume arus barang tidak seimbang, infrastruktur belum memadai, dan kemacetan lalu lintas di darat juga menjadi permasalahan terutama untuk akses ke Pelabuhan merupakan salah satu hambatan utama dalam distribusi barang di Indonesia.

Integrasi Sistem Angkutan Logistik

Truk merupakan sarana angkutan barang (sarana distribusi Logistik) yang paling efisien, murah dan banyak dipergunakan untuk jarak kurang dari 400 Km dibandingkan Kereta Api atau Kapal. Sehingga adanya konektivitas prasarana jalan sangat berpengaruh pada kelancaran distribusi barang. Penguatan infrastruktur akan meningkatkan produktivitas melalui penurunan biaya logistik dan mendorong aktivitas ekonomi.

“Infrastruktur yang terhubung dengan baik, terutama pada sektor industri akan memberikan dampak besar pada peningkatan daya saing perekonomian melalui penurunan biaya logistik yang kemudian dapat meningkatkan produktivitas,” jelas Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, Gemilang Tarigan.

Integrasi jaringan transportasi di Indonesia menjadi hal yang sangat penting untuk mewujudkan konektivitas. Adanya prasarana jalan yang mendukung dengan biaya yang lebih murah, maka distribusi barang menjadi lebih lancar dan berdampak pada penurunan biaya logistik.

Sementara itu, berbicara mengenai integrasi sistem angkutan logistik, Praktisi Pelabuhan, Rudy Sangian menyebutkan bahwa seluruh program pemerintah seperti kapal niaga dan tol laut harus diintegrasikan melalui Informasi Muatan dan Ruang Kapal (IMRK). Selain itu, diperlukan adanya kerjasama antara port regulator, operator dan komunitas agar 72 proses mata rantai logistik dapat terintegrasi untuk menekan biaya logistik.

Kasubdit Jemen Oppsrek Kemsel Korlantas Polri, KBP Indra Jafar, menyampaikan bahwa dari sisi penanganan lalu litas terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah Over Dimension Overload (ODOL). Masih banyak pelanggaran yang dilakukan pengelola jasa angkutan barang yang mengakibatkan kerusakan jalanan dan membahayakan keselamatan.

“Pembangunan pusat pusat distribusi logistik bisa dijadikan solusi untuk mencegah kendaraan berat masuk kota, di mana truk-truk bisa melewati jalan nasional (trans jawa dan trans sumatera) sedangkan hantaran ke kota menggunakan kendaraan yang lebih keci,” imbuhnya.

Selain itu, perlu adanya pengembangan smart logistic dalam menentukan rute kendaraan logistik yang akan melewati jalur kota serta adanya integrasi sistem online antara stakeholder dalam mendukung distribusi logistik. 

Hadir sebagai pembahas, Dirlantas & Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut, Antoni Arif menyebutkan bahwa, terdapat 2 hal yang mempengaruhi biaya logistik yakni biaya transportasi dan biaya inventory. 

“Hal ini yang tidak terbayangkan bahwa biaya inventory itu cukup mahal. Tahun 2020 lalu, kami melakukan kajian kecil mengenai biaya logistik di 4 pelabuhan Tanjung Perak, Belawan, Makassar. Dari hasil kajian diperoleh bahwa struktur cost logistic terdapat 7 komponen yang dapat kita urai, yakni biaya jasa pelabuhan sebesar 11,27%, biaya bongkar muat sebesar 38,8%, biaya tracking/peremajaan sebesar 16,6%, biaya Jasa Pengurusan Transportasi 11,3%, biaya pengurusan dokumen 1,4%, PNBP 1,28% dan biaya keamanan 5,5%,” ungkap Antoni.

Turut hadir dalam Webinar kali ini Wakil Ketua Umum DPP ALFI Bidang MAritim & Kepelabuhan, Harry Sutanto; SM Operasi Pelindo III, Daru Wicaksono Julianto; Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Arif Toha Tjahyagama; Junior Chief Specialist Direktur Operasi Pelindo II, Indra Hidayat Sani, Dr.Agus Edy Susilo serta Prof. Wihana Kirana Jaya.

Komentar