BALITBANGHUB GELAR BIMBINGAN TEKNIS MANAJEMEN RISIKO

Jakarta- Sebagai upaya meningkatkan pemahaman pegawai dalam penerapan manajemen risiko dan pengembangan budaya sadar risiko, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) gelar kegiatan Bimbingan Teknis Manajemen Risiko. Kegiatan diwali dengan acara kick off pada Kamis (12/11).

Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta terbagi dalam 3 (tiga) kelompok, yakni Kelompok Manajemen Puncak, Kelompok Manajemen Tengah, dan Kelompok Manajemen Keahlian. Masing-masing kelompok akan mengikuti bimbingan selama 2 (dua) hari dan akan berlangsung pada Jumat (13/11) hingga Kamis (19/11) secara virtual dengan menghadirkan narasumber dari Tim PPM Manajemen.

Pemaparan dari PPM Manajemen

Turut hadir dalam kegiatan ini Kapala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati menyampaikan bahwa transportasi merupakan sektor yang kompleks karena terdapat multi disiplin ilmu dan beragam stakeholder yang dihadapi. Kementerian Perhubungan  sebagai regulator banyak memiliki potensi risiko yang harus dihadapi. Sehingga semua harus siap agar dapat bergerak di suatu titik keseimbangan yang baru.

“Penelitian juga berpotensi memiliki risiko, karena jika hasil kajian menjadi produk hukum harus bisa dipertanggungjawabkan. Setiap kegiatan dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)2020-2024 harus memiliki identifikasi risiko yang akan dihadapi ke depan,” ujar Hayati.

Salah satu upaya penerapan manajemen risiko adalah penyelenggraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). SPIP merupakan pelaksanaan pengendalian intern atas penyelengaraan pemerintahan dalam mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. SPIP dibangun oleh 5 (lima) unsur, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan pengendalian intern.

Salah satu fasilitator dari Tim PPM Manajemen, Alphieza Syam menyampaikan bahwa manajemen risiko di sektor publik merupakan barang baru yang mulai dikenalkan pertama kali lewat Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan yang salah satu pasalnya menyebutkan tentang implementasi manajemen risiko.

“Manejemen risiko itu untuk semuanya karena setiap kegiatan untuk mencapai sasaran pasti memiliki risiko yang akan dihadapi. Organisasi yang tidak memilki risiko berarti tidak memiliki kegiatan atau tujuan,” ungkap pria yang sering disapa Phiza.

Phiza melanjutkan, Balitbanghub sebagai unit yang melakukan penelitian juga memiliki risiko. Karena dalam penelitian terdapat tenggat waktu dan diharapkan hasilnya sesuai dengan standar tertentu. Manajement risiko mungkin bukan suatu hal yang penting, tetapi tanpa adanya inplementasi  atas manajemen risiko pekerjaan kita akan lebih berisiko lagi.

Komentar