BALITBANGHUB EFEKTIFKAN STANDAR KESEHATAN PENERBANGAN UNTUK KEMBALIKAN KEPERCAYAAN PUBLIK

Jakarta- Pemerintah Indonesia tidak memungkiri bahwa bidang penerbangan menjadi salah satu sektor transportasi yang paling terdampak selama masa pandemi Covid-19. Jumlah layanan dan okupansi baik penerbangan domestik maupum penerbangan internasional turun signifikan pada April 2020. Keadaan ini bahkan sejalan dengan penurunan penerbangan terjadwal di seluruh dunia hingga 56% sejak Juni 2020.

Melihat fenomena tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara berupaya menemukan solusi terbaik untuk menciptakan sistem transportasi udara yang aman dan nyaman. Balitbanghub melibatkan peneliti asal Universitas Indonesia untuk merumuskan kebijakan dan regulasi menuju penerbangan yang aman selama masa pandemi Covid-19.

Rekomendasi peneliti untuk keamanan penerbangan disampaikan dalam webinar series #2 bertajuk Efektivitas Peraturan, Standar Kesehatan Sarana Prasarana Transportasi Udara, dan Perubahan Perilaku Pengguna Jasa Menuju Terbang Aman Terbang Nyaman, Rabu (16/9) siang. Webinar ini merupakan seri lanjutan dari kick off webinar series yang dimulai Selasa (15/9) lalu.

Lima dosen sekaligus peneliti asal Universitas Indonesia menjadi pembicara dalam webinar, yaitu Prof. Dr. Budi Sampurna, D.F.M., S.H., Sp.F.(K), Sp.K.P.; Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp.B.S.(K), Sp.K.P., FINSS, FINPS; Dr. Bagus Takwin, M.Hum; dan Krisna Puji Rahmayanti, S.I.A, M.P.A. Hadir pula Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti; Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi; dan Direktur Jendral (Dirjen) Perhubungan Udara, Novie Riyanto.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti dalam acara Webinar Series #2 (16/9) mengatakan kondisi pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi Kementerian Perhubungan sebagai regulator bidang transportasi untuk menetapkan kebijakan sesuai perkembangan situasi.

Lebih lanjut dijelaskan Hayati Kebijakan mengenai transportasi udara telah diadaptasi sesuai dengan protokol kesehatan.

"Kajian standar kesehatan yang dirancang menyesuaikan dengan protokol kesehatan sesuai aturan yang ditetapkan oleh Satgas Penanganan COVID-19, Kementerian Kesehatan, dan merujuk pada ketetapan internasional," jelasnya.

Hayati menambahkan rekomendasi awal berfokus pada standar kesehatan penumpang bandar udara dan pesawat. Penerapan protokol kesehatan harus diawasi dengan ketat oleh petugas yang berwenang. Selain itu diperlukan rekayasa pengaturan kursi untuk mempermudah pembatasan sosial antarpenumpang di bandar udara. Pembatasan ini juga termasuk pengaturan pembagian makanan dan proses naik turun pesawat.

Lanjutnya Hayati menyebut Kementerian Perhubungan terus melakukan perbaikan dalam pembuatan kebijakan selama masa pandemi ini dimana hal ini perlu kerjasama antar stakeholders transportasi termasuk akademisi.

Sementara itu Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Kuncoro menekankan pemulihan ekonomi harus berjalan beriringan dengan kesehatan. Untuk itu, perubahan perilaku dibutuhkan untuk menekan penularan Covid-19. Aktivitas tetap boleh dilakukan, namun Sonny menegaskan masyarakat tidak boleh bersikap ceroboh.

Penularan Covid-19 dapat ditekan dengan memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga jarak. Cara ini disebut Sonny mampu menekan penularan hingga 85% jika dibandingkan apabila lingkungan tidak melakukan proteksi diri. Perubahan perilaku ini dapat diciptakan dengan pemberian nasihat, insentif, pengetahuan, bahkan hukuman di tengah masyarakat. Walau demikian, warga perlu mengembangkan motivasi internal dan eksternal untuk mengubah perilaku selama masa pandemi Covid-19.

“Penegakan protokol kesehatan dilakukan di semua tempat. Ada petugas yang mengingatkan termasuk di bandara. Apalagi transportasi udara sangat penting mengingat luasnya negara kita,” ujar Sonny.

Direktur Jendral Perhubungan Udara, Novie Riyanto menambahkan sejak bulan Agustus pemulihan sektor penerbangan mulai dilakukan. Pemulihan tidak sekadar mengoperasikan kembali layanan transportasi udara, pemerintah juga berupaya keras mengembalikan kepercayaan publik. “Kita aktif mengkampanyekan recovery (pemulihan) bahwa naik pesawat itu aman. Transmisi lokal di kabin pesawat bisa diatasi dengan teknologi,” kata Novie. Di samping itu, upaya perlindungan terhadap calon penumpang juga dilakukan dengan pengisian data elektronik untuk mempermudah tracing.  

Bidang perhubungan udara berharap tetap bisa memiliki peran signifikan dalam distribusi logistik ke seluruh wilayah Nusantara, ekspor, dan impor. Termasuk jika nantinya diperlukan untuk distribusi bahan-bahan vaksin Covid-19.  

Peneliti Universitas Indonesia, Krisna Puji Rahmayanti, S.I.A, M.P.A., memaparkan tentang efektivitas peraturan sektor penerbangan pada masa pandemi Covid-19. Paparan ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi kebijakan tentang implementasi proses bisnis penerbangan dan tata kelola sektor penerbangan dalam situasi pandemi Covid-19.

Menurut Krisna, pemerintah perlu memastikan regulasi nasional tetap merujuk pada praktik dan pedoman internasional. Kendati demikian, peraturan yang dibuat tetap berpijak nilai-nilai dasar negara. Dalam hal ini, negara bertanggung jawab menyediakan pelayanan kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan. Dengan demikian negara secara kokoh mampu merancang dan menerapkan regulasi sektor transportasi udara dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19. Penanganan yang optimal menjadi salah satu cara mengembalikan kepercayaan publik.

Protokol kesehatan menjadi pilar utama dalam membuka sektor penerbangan. Protokol kesehatan diperlukan bagi seluruh aspek penerbangan dengan sasaran regulator, operator bandara, maskapai, dan penumpang.

Peneliti lain,  Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp.B.S.(K), Sp.K.P., FINSS, FINPS menekankan pada rekayasa pencegahan kerumunan di terminal bandara. Pengelola bandara perlu menghitung kebutuhan ruang untuk mencegah kerumuman. Kemudian penyesuaian dilakukan dengan pengaturan waktu tunggu titik layanan dan penentuan jumlah titik layanan.

Wawan menambahkan sistem lain yang perlu dilakukan dalam pencegahan penularan Covid-19 adalah menerapkan strategi kombinasi people-air-surface-space-management saat berada di dalam pesawat. Selain menerapkan protokol kesehatan, awak dan penumpang tidak melakukan aktivitas yang dapat memproduksi airborne seperti bernyanyi, berteriak, dan banyak berbicara.

Dr. Bagus Takwin, M.Hum menyebutkan perlunya penghargaan nyata yang diberikan pemerintah kepada maskapai penerbangan yang berhasil menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Penghargaan itu bisa mengembalikan kepercayaan penumpang terhadap industri penerbangan. “Kita memang perlu membuktikan bahwa naik pesawat itu aman,” kata Bagus. Kebutuhan masyarakat terhadap angkutan udara juga perlu ditumbuhkan.

Sedikitnya ada empat langkah yang perlu dilakukan dalam merespons perubahan perilaku masyarakat terhadap transportasi udara. Pertama melakukan pemantauan dan prediksi terhadap gejala yang timbul di masyarakat. Kemudian mengubah persepsi bahwa transportasi udara memang aman, lalu mendorong sikap positif terhadap angkutan udara. Terakhir membentuk dan mempertahankan kepercayaan terhadap pelayanan yang baik, aman, dan sehat.

“Menjaga komunikasi publik dengan cerita-cerita baik menjadi sangat penting,” terang Bagus.

Prof. Dr. Budi Sampurna, D.F.M., S.H., Sp.F.(K), Sp.K.P juga menekankan perlunya kerja sama maskapai penerbangan dan masyarakat. Masyarakat yang berencana menggunakan jasa penerbangan harus memastikan bahwa dirinya sehat agar tidak merugikan orang lain. Dengan demikian warga dan industri penerbangan bisa diuntungkan dalam waktu bersamaan.

Skenario pemulihan industri penerbangan melalui relaksasi industri penerbangan telah di mulai pada tahun ini dengan komitmen terhadap protokol kesehatan dan persiapan Post-Covid. Selain berfokus pada keamanan dan keselamatan masyarakat pada transportasi udara, pemerintah akan terus berupaya mendukung maskapai sehingga mampu bertahan dan berkontribusi membantu pemulihan ekonomi.

Komentar