BALITBANGHUB DAN UGM GALI POTENSI PENGEMBANGAN AEROTROPOLIS DI WILAYAH SEKITAR IBUKOTA NEGARA BARU

Jakarta—Rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur dinilai berdampak kepada pergeseran pemusatan kegiatan tertentu serta munculnya aktivitas-aktivitas baru di wilayah sekitarnya. Kendati demikian, Pemerintah terus melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek, tidak terkecuali di bidang transportasi, yang mana penentuan kebijakan dan pengaturannya utamanya berada di bawah wewenang Kementerian Perhubungan.

Kepala Puslitbang Transportasi Udara, Capt. Novyanto Widadi dalam webinar bertajuk “Pengembangan Aerotropolis di Wilayah Sekitar Ibukota Negara Baru” yang digelar oleh Badan Litbang Perhubungan dan UGM pada Selasa (23/11), menyampaikan bahwa wilayah di sekitar Provinsi Kalimantan Timur termasuk provinsi lainnya di Pulau Kalimantan diharapkan akan mendukung konektivitas dan pengembangan IKN dengan salah satu caranya melalui pengembangan bandar udara di sekitar wilayah IKN tersebut dengan penerapan konsep aerotropolis.

Aerotropolis merupakan pendekatan strategi baru dalam perencanaan bandar udara dan penggunaan lahan komersial secara bersama-sama untuk memberikan keuntungan kepada bandar udara, wilayah dan negara.

Lebih lanjut, Capt. Novyanto Widadi menjelaskan bahwa aerotropolis pada dasarnya adalah daerah yang terintegrasi dengan bandar udara, dan disekitarnya terdapat kluster hotel, kantor, fasilitas distribusi dan logistik dimana semua jenis aktivitas tersebut disediakan dan ditingkatkan oleh bandar udara.

“Untuk mendukung pengembangan bandara-bandara di sekitar wilayah Ibu Kota Negara melalui konsep Aerotropolis, maka diperlukan adanya analisis kriteria sebagai acuan dan berbagai tahapan pengembangan bandara dan wilayah sekitarnya agar tepat sasaran dan sesuai dengan perencanaan daerah,” ujar Capt. Novyanto Widadi.

Pada kesempatan yang sama, Tim Ahli Pustral UGM, Ikaputra, menyebutkan bahwa secara prinsip ada tiga ilmu besar di dalam Aerotropolis, yakni Urban Planning, Airport Planning dan Business Site Planning, dimana ini merupakan kesatuan yang penting.

“Konsep Aerotropolis IKN pun harus memiliki global and national link, dimana masing-masing memiliki peran besar dalam mendukung IKN, juga ada Hub integrasi berupa Borneo Forest link yang menjadikan hubungan antar Aero City yang ada di Balikpapan terkoneksi dan lengkap,” tutur Ikaputra.

Peneliti Pustral UGM, Juhri Iwan Agriawan, mengatakan bahwa bandara yang diperkirakan akan dapat dikembangkan Aerotropolis berdasarkan peran bandara dan konektivitasnya adalah Bandara SAMS Sepinggan (BPN), Balikpapan sebagai bandara pengumpul primer (KM 166/2019) dan Bandara APT Pranoto (AAP), Samarinda, sebagai bandara pengumpul sekunder (KM 166/2019).

“Adapun perkiraan wilayah pengembangan Aerotropolis akan berada di sekitar wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, dengan wilayah mitra atau penyangga diperkirakan meliputi seluruh Kalimantan Timur, terutama wilayah-wilayah yang berbatasan dan mempunyai akses baik,” tambahnya.

Jenis kegiatan yang akan dikembangkan di Aerotropolis sendiri dibagi menjadi tiga wilayah, yang pertama yaitu wilayah terminal, baik terminal penumpang maupun terminal barang, yang kedua adalah Airport City, yang masuk ke dalam kawasan bandara namun berada di luar terminal, dan ketiga adalah area Aerotropolis yang berada di luar kawasan properti bandara.

Sedangkan aspek legal perencanaan Aerotropolis untuk dapat diimplementasikan adalah berkaitan dengan aspek penataan ruang dengan payung legal yang memungkinkan di RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai Kawasan strategis, RTR Kawasan Strategis Provinsi yang merupakan turunan dari RTRW Kabupaten/Kota dan RTR Kawasan strategis Kabupaten/Kota.

Hadir sebagai pembahas, Kepala Bidang Transportasi Satgas Perencanaan IKN, Atyanto Busono, memaparkan bahwa kawasan yang kompak didukung oleh transportasi publik yang terencana sesuai pentahapan populasi dan meliputi airport connection, MRT/LRT pada koridor antar kota, BRT Direct Service pada koridor kota, BRT Autonomous pada koridor aksis sumbu kebangsaan, Shuttle Bus area sumbu dan autonomous mini-bus pada kompleks istana dan kementerian.

“Rencana konektivitas transportasi IKN juga dilakukan melalui pembangunan Tol Bandara Sepinggan – Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dengan Panjang ruas 47,63 KM, waktu tempuh selama 30 menit dan kecepatan rata-rata 80-100 km/jam,” tambah Atyanto.

Sementara itu, General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Rika Danakusuma, dalam paparannya menjelaskan bahwa konsep Aerotropolis merupakan konsep yang sesuai untuk mengembangkan Kawasan dengan sentra bandara sebagai economic driver.

“Pertumbuhan ekonomi akan lebih optimum dengan penerapan Aerotropolis menggunakan dasar multiple airport system sebagai basis implementasi Aerotropolis IKN (single Aerotropolis),” ujarnya.

Melihat dari segi ekonomi, Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa pengembangan Aerotropolis dapat memberikan manfaat bagi Kota Balikpapan, diantaranya bandara sebagai pusat kegiatan di Aerotropolis akan menjadi growth center, bukan hanya sebagai pusat kegiatan nasional tetapi juga internasional.

Selain itu, wilayah pusat Aerotroplis didorong untuk terus tumbuh dan berkembang, sehingga tercipta spread effect perekonomian di wilayah Aerotropolis (dalam radius 15-30 km). Fasilitas dan layanan ekonomi akan terintegrasi dalam satu kawasan, sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam layanan sistem transportasi.

Harapan dari terselenggarakannya webinar ini adalah dapat tersempurnakannya rekomendasi kebijakan terkait peningkatan pertumbuhan dan konektivitas wilayah IKN melalui pengembangan bandara di wilayah sekitar berdasarkan konsep aerotropolis.

Komentar

Tulis Komentar