Puslitbang Jalan dan KA serahkan 3 hasil Studi Rencana Induk Transportasi Kedungsepur, Sarbagita dan Pengembangan Jaringan Jalan Kepada DISHUB Prov. Jawa Tengah

Bogor, (8/12/2017),  Dalam rangka menyusun rencana induk transportasi kedung sepur dan sarbagita, Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian) mengadakan Fokus Group Disscusion (FGD) terkait dengan hasil studi Rencana Induk Transportasi Kedungsepur dan Sarbagita

FGD ini sekaligus menyerahkan tiga hasil studi kepada Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perhubungan Provinsi Bali dan Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar yang diserahkan oleh  Kepala Puslitbang Transportasi Darat dan Perkeretaapian Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) Ir. Danto Restyawan, MT, bertempat di hotel Acha Bogor pada Jumat 8/12/2017.

Studi pertama bertajuk Studi Penyusunan Rencana Induk Transportasi Sarbagita dan Kedungsepur. Kedua, Konsep Penerapan Green Zone di Wilayah Permukiman dan Pariwisata. Ketiga, Pengembangan Jaringan Jalan untuk Kebutuhan Mobilitas Angkutan Barang Berdasarkan Hasil Survey ATTN.

Untuk hasil studi Studi Penyusunan Rencana Induk Transportasi Sarbagita dan Kedungsepur diserahkan kepads Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Perhubungan Provinsi Bali. Sedangkan hasil studi Konsep Penerapan Green Zone di Wilayah Permukiman dan Pariwisata diserahkan kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar.

Dalam sambutan penyerahan hasil studi tersebut Kepala Puslitbang Transportasi Darat dan Perkeretaapian menyebutkan tingginya ketergantungan masyarakat yang tinggal di sub urban dan kawasan pendukung dengan aktifitas di Pusat Kota yang jaraknya relatif jauh berdampak pada perubahan pola perjalanan masyarakat harian.

Kapus Danto Restyawan mengemukakan, bahwa Jarak perjalanan yang jauh, waktu tempuh yang semakin panjang, pelayanan angkutan umum yang terbatas, dan kemacetan pada jam puncak (peak period) menjadi hal yang selalu dihadapi masyarakat kota sehari-hari.

Seiring berkembangnya kawasan kota dan kota pendukung di sekitarnya, maka terbentuk kawasan Aglomerasi. Beberapa kawasan Aglomerasi di Indonesia adalah Aglomerasi Kedungsepur dan Sarbagita.

Aglomerasi Kedungsepur, Danto Restyawan menjelaskan merupakan kawasan metropolitan di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kota Semarang dan Purwodadi Kabupaten Grobogan. Kawasan Aglomerasi Kedungsepur dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Sedangkan wilayah Aglomerasi Sarbagita merupakan kawasan metropolitan di Provinsi Bali yang terdiri dari Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan. Kawasan Aglomerasi Sarbagita dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2011 yang selanjutnya diubah dengan Peraturan Presiden No. 51 Tahun 2014. Dengan berkembangnya wilayah aglomerasi tersebut, maka diperlukan perencanaan dan pengelolaan transportasi yang tidak dibatasi dengan wilayah administrative.

Karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun rencana induk transportasi Kedungsepur dan Sarbagita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya konsep rencana induk transportasi aglomerasi Kedungsepur dan Sarbagita,”Sebutnya”.

Kepala Program dan Evaluasi (Ahmad Mulawad) Menjelaskan mengenai kawasan wisata  merupakan kawasan dengan penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi. Salah satu kawasan yang dikenal adalah Kawasan Wisata Ubud di Bali. Masalah yang ditimbulkan akibat penggunaan kendaraan bermotor yang menyebabkan kemacetan membuat peringkat tujuan wisata Kawasan ubud menurun.

Kondisi lalu lintas yang tidak tertangani dengan baik akan berdampak kepada pergerakan dan konektivitas, kualitas lingkungan dan ekologi lahan, dan juga dikhawatirkan akan berdampak pada kunjungan wisatawan, dan pada akhirnya akan berdampak kepada sosial ekonomi masyarakat Ubud.

Karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah merancang penerapan transportasi ramah lingkungan di kawasan wisata terpilih. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya konsep rencana penerapan green zone yang akan diterapkan di kawasan wisata.

Kemudian Peneliti Siti Maemunah menjelaskan, tujuan studi Pengembangan Jaringan Jalan untuk Kebutuhan Mobilitas Angkutan Barang Berdasarkan Hasil Survey ATTN adalah menganalisis data hasil survey Asal Tujuan Transportasi Nasional (ATTN) barang tahun 2016 untuk pengembangan jaringan jalan bagi kebutuhan mobilitas angkutan barang sebagai bahan masukan (konsep kebijakan) untuk perencanaan Pemerintah Daerah dalam pengembangan jaringan jalan.

Metode analisis yang digunakan untuk analisis permasalahan adalah diagram tulang ikan atau fishbone diagram, metode standarisasi yang merupakan cara untuk melakukan pembandingan antara satu kriteria dengan kriteria yang lain sehingga menghasilkan nilai pembandingan yang fair,

Selain itu, melakukan rangking dan pembobotan dengan menggunakan dua metode yaitu equal important (kepentingan yang sama) dan expert judgment (pendapat para ahli), sehingga kesimpulan dari studi ini adalah menyusun kerangka konseptual pengembangan infrastruktur transportasi dalam rangka penurunan biaya logistik di Indonesia berbasis: a) pengembangan transportasi logistik berdasarkan karakteristik Indonesia sebagai Negara Maritim; b) pengembangan layanan intermoda transportasi logistik; serta c) pengembangan infrastruktur transportasi logistik baik menyangkut hard dan soft infrastructure, pengembangan sistem jaringan jalan melalui perbaikan kualitas jaringan (network quality) dan pengembangan jaringan (network), secara umum Pulau Lombok akan dikembangkan menggunakan pendekatan perbaikan kualitas jaringan dan Pulau Sumbawa akan dikembangkan menggunakan pendekatan perbaikan kualitas jalan, “jelas Maemunah”.

Administrator

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *