Loading...
Berita

KEMENHUB GELAR FGD KESIAPAN SARANA DAN PRASARANA JALUR PENERBANGAN DI SELATAN PULAU JAWA

fgd Udara Yogya 6 -10-17 2

Jakarta-Kementerian Perhubungan cq. Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ” Sarana dan Prasarana Jalur Penerbangan di Selatan Pulau Jawa,” Jum’at (6/10) di Yogyakarta.

FGD dibuka oleh Kabadan Litbang Perhubungan, sebagai moderator adalah Kapuslitbang Transportasi Udara, dan pembicara, selain dari Tim Peneliti  Puslitbang Transportasi Udara, juga  menghadirkan Direktur Jenderal Perhubungan Udara/ Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara, Direktur Utama Airnav Indonesia, Mabes TNI Angkatan Udara dan PT Garuda Indonesia, dengan pembahas para pakar transportasi udara, Komite Nasional Keselamatan Transportasi, INACA (asosiasi maskapai penerbangan Indonesia), serta penyelenggara Bandar udara. Hadir dalam FGD adalah wakil dari beberapa instansi terkait yaitu Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, TNI Angkatan Udara, Universitas Gadjah Mada, Angkasa Pura I dan II, serta maskapai penerbangan. Keseluruhan peserta kurang lebih berjumlah 80 orang.

Saat ini ruang udara di jalur utara Pulau Jawa telah cukup padat dan memerlukan alternatif jalur penerbangan, pihak TNI telah sepakat memberikan sebagian ruang udara di jalur selatan untuk keperluan tersebut. Dengan dibukanya jalur selatan ini akan terdapat efisiensi dari segi waktu penerbangan, biaya dan emisi penerbangan. Penggunaan bersama ruang udara Sipil-Militer tersebut sejalan dengan rekomendasi ICAO yang telah menyusun platform sebagai guidance koordinasi sipil-militer sebagaimana tercantum dalam ICAO Circular 330-AN/189 tentang Civil/Milatary Cooperation in Traffic (Flexible Use of Airspace)

Dalam sambutannya Ir. Umiyatun Hayati Trihastuti, MSc Menyampaikan, dengan adanya AIP Supplement no. 39/17 tersebut maka saat ini jalur penerbangan sipil terbuka untuk wilayah selatan Pulau Jawa yang melintasi sebagian dari ruang udara khusus WA(R)-1 dengan batasan-batasan tertentu.

Meskipun bertujuan untuk menyelaraskan antara pertumbuhan transportasi udara dengan kapasitas ruang udara, pengelolaan ruang udara dalam Flexible Use of Airspace menjadi tanggung jawab bersama; dibutuhkan komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi yang baik sehingga target keselamatan, keamanan, dan operasional masing-masing pihak dapat tercapai “,ucapnya”.

Selain itu, unsur-unsur penunjang dan pendukung lainnya perlu diperhatikan dengan seksama mengingat jalur penerbangan yang telah dibuka tersebut merupakan jalur baru yang selama ini belum pernah diterbangi secara reguler oleh penerbangan sipil. Oleh karena itu, fasilitas dan prasarana yang diperlukan dalam menunjang operasi penerbangan harus direncanakan dan disiapkan mulai dari sekarang,” lanjutnya”.

Disampaikan Umiyatun Hayati bahwa Menteri Perhubungan berharap FGD  dapat membangun peluang dan sekaligus menjawab tantangan tersebut dan membahas prioritas-prioritas yang diperlukan dalam upaya penggunaan jalur penerbangan dalam ruang udara bersama di selatan Pulau Jawa.

Saya juga mendorong anda semua untuk dapat memanfaatkan FGD ini sebaik-baiknya dan berperan aktif dalam diskusi yang akan dilakukan karena dalam acara seperti ini lah manfaat bekerja bersama dapat kita raih, “Tegasnya”.

Dalam kesempatan ini juga Kepala Badan Litbang Umiyatun Hayati Trihastuti mengharapkan Focus Group Discussion  ini dapat mempertemukan stakeholder terkait dan mengidentifikasi hal-hal yang masih memerlukan penyiapan lanjut terhadap pelaksanaan penerbangan di ruang udara Pulau Jawa Bagian Selatan tersebut, termasuk kesiapan prasarana bandara sebagai alternate aerodrome, kesiapan Basarnas terkait tupoksinya, serta mekanisme koordinasi antar stakeholders terkait guna terciptanya keselamatan dan keamanan penerbangan di wilayah tersebut”, tambah Umiyatun”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *