Loading...
Berita

Balitbang Diskusi ” Pengembangan Sistem Transportasi Nasional Dalam Mendukung Pelayanan Angkutan Barang Yang Efisien”.

1

Jakarta (13/10)- Kawasan Pantai Utara Pulau Jawa yang biasa disebut Pantura merupakan jalur perekonomian nasional yang memegang peranan penting dalam proses distribusi barang di Indonesia. Tingginya arus pergerakan barang membuat kawasan Pantura menjadi jalur teraktif dan tersibuk serta dipadati angkutan barang berupa truk. Akibatnya, beban jalan di jalur Pantura menjadi tinggi dan pada akhirnya menimbulkan kerusakan jalan, kemacetan, serta dampak lain seperti meningkatnya polusi udara, inefisiensi penggunaan BBM, bertambahnya biaya pemeliharaan dan perawatan jalan, serta meningkatnya resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Konsekuensi dari semua itu adalah biaya tinggi pada transportasi. Karenanya diperlukan sinergi dan integrasi antarmoda transportasi agar tercipta konektivitas untuk menekan biaya tinggi transportasi.

Untuk menemukan solusi permasalahan distribusi angkutan barang serta upaya-upaya strategis yang perlu dilakukan dalam perspektif sistem transportasi nasional. Badan Litbang Menyelenggarkan  Focus group discussion(FGD) mengangkat tema  Pengembangan Sistem Transportasi Nasional Dalam Mendukung Pelayanan Angkutan Barang Yang Efisien, bertempat di Ruang Rapat Garuda, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Jl. Merdeka Timur No. 5 Jakarta, Jum`at  13 Oktober 2017.

Focus Group Discussion (FDG) dibuka oleh  Kepala Badan Litbang Perhubungan, Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, MSc, dan  menegahkan pembicara yang  handal yaitu; Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Bappenas, dengan topik “,Pengaturan Integrasi Prasarana Transportasi Dalam Mendukung Angkutan Barang”,  Ketua ALFI, dengan topik “,Pengaturan Integrasi Dokumen Angkutan Barang Dalam Negeri Dalam Mendukung Angkutan Barang”, Balitbang  juga menghadirkan pakar pembahas yang kompeten seperti; Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Dirjen Perhubungan Darat, Dirjen Perhubungan Laut, Dirjen Perhubungan Udara, Dirjen Perkeretaapian, Dirut PT. Pelabuhan Indonesia II, Dirut PT. Kereta Api Logistik, Ketua DPP Organda, FGD ini juga dimoderatori oleh Kabadan Litbang Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, MSc.

Ketika membuka FGD, Kepala Badan Litbang  Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, MSc menyampaikan bahwa Pergerakan arus barang melalui jalur darat di kawasan Pantura khususnya sepanjang koridor Jakarta-Surabaya sangat padat dengan angkutan barang jenis barang umum (general cargo) atau paket. Meski jalur darat koridor Jakarta-Surabaya sudah dapat dilayani moda kereta api namun dari segi kuantitas pengiriman barang ekspedisi masih didominasi angkutan truk. Pemilihan moda truk banyak dipilih oleh perusahaan jasa pengiriman ekspedisi karena memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya adalah tidak terikat oleh waktu mengingat pengiriman barang dapat dilakukan kapan saja apabila kuota pengiriman telah tercapai. Selain itu, angkutan truk dinilai lebih praktis karena dapat langsung menjangkau lokasi pengambilan barang dan lokasi tujuan pengiriman barang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dijelaskan Umiyatun, Sinergi dan integrasi antarmoda transportasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan infrastruktur kereta api yang sudah tersedia misalnya jalur rel ganda Jakarta-Surabaya dengan moda angkutan truk untuk distribusi barang. Moda kereta api memiliki beberapa kelebihan dibandingkan moda truk, di antaranya kapasitas angkut barang yang besar, waktu perjalanan yang relatif cepat, dan keamanan serta keselamatan barang lebih terjamin.

Integrasi yang terwujud harus bertumpu pada tiga unsur yaitu pelayanan angkutan barang seperti jadwal dan moda transportasi yang digunakan; jaringan pelayanan angkutan barang seperti rute dan trayek; serta jaringan prasarana angkutan barang seperti fasilitas alih moda. Dengan demikian, terbentuklah sistem transportasi antarmoda barang,”ucap Umiyatun”.

Selanjutnya Kabadan menyampaikan, Integrasi antarmoda transportasi harus dilakukan untuk menciptakan arus distribusi barang yang efektif dan efisien. Salah satu bentuk terwujudnya sistem transportasi antarmoda barang ditandai dengan terkoneksinya setiap moda. Sedangkan syarat terciptanya sistem transportasi antarmoda barang adalah terhubungnya moda transportasi dengan pusat produksi barang dan pelabuhan yang menjadi simpul distribusi maupun pusat pergerakan barang.

Ciri utama sistem transportasi antarmoda barang adalah adanya keterpaduan pada tiga hal yaitu pelayanan pengangkutan barang, jaringan pelayanan barang, dan jaringan prasarana angkutan barang. Sebab, penyelenggaraan transportasi antarmoda barang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang berkesimbungan (seamless), tepat waktu (just in time), dan pelayanan dari pintu ke pintu (door to door) “,lanjut Kabadan”.

Dijelaskan Umiyatun bahwa Keterpaduan pelayanan pengangkutan barang ditandai dengan penggunaan moda transportasi yang melibatkan satu atau lebih moda transportasi seperti truk, kereta, dan kapal. Sedangkan jaringan pelayanan barang terkait dengan pemilihan simpul transportasi seperti pelabuhan, terminal barang, gudang penyimpanan barang, dan kawasan industri. Keterpaduan terjadi bila simpul transportasi yang digunakan melibatkan satu atau lebih dari setiap jenis simpul. Selain itu, pemilihan rute transportasi juga bagian dari keterpaduan jaringan pelayanan barang. Adapun keterpaduan jaringan prasarana angkutan barang terkait dengan fasilitas alih moda seperti stasiun kereta, pelabuhan, maupun gudang penyimpanan barang.

Melalui kegiatan diskusi ini, Kepala Badan Umiyatun Hayati Triastuti  berharap memperoleh sumbangan pemikiran dari para pembicara, pembahas dan peserta dalam mengidentifikasi kondisi dan permasalahan serta mewujudkan pelayanan angkutan barang yang efektif dan efisien,” imbuhnya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *